Carry atau Camry

Posted By Admin on Minggu, 20 September 2015 | 21.56

Saya lupa bagaimana mengeja namanya. Pak Ngapuwan atau pak Ngapuan. Beliau adalah satu-satunya guru agama di SD saya dulu. SD negeri kecil, dengan empat ruang kelas yang dipakai bergantian. SD tanpa fasilitas lapangan, berdiri di seberang pabrik kacang-tempat kami mengais kacang mentah yang masih layak dikudap. Usia beliau saat itu mungkin seusia saya sekarang, empat puluh tahunan lebih.

Pak Ngapuwan, saya ingat, tiap hari ber-"sepeda onthel" Fongers -kami menjulukinya "pit kebo", rambutnya selalu tersisir rapi dengan wangi tancho dan baju model safari yang di bagian sakunya terlihat menghitam : mungkin akibat sering tergosok tangan yang berkeringat. Saya curiga, dalam kebersahajaannya beliau memang tak memikirkan memiliki banyak baju safari untuk dinas mengajar. Mengingat SD kecil ini dulu hanya punya 1 orang guru agama Islam, pak Ngapuwan mengajar saya dari kelas 1 hingga kelas 6.

Suatu kali, saya dan beberapa teman, diminta beliau datang ke rumahnya. Posisinya di atas semacam bukit, yang saya bisa bayangkan beliau akan kesusahan menuntun sepeda ke atasnya. Bukan rumah mewah, hanya rumah biasa di kampung yang padat. Harta yang kelihatan sangat berharga saya lihat hanya setumpuk kitab, di lemari yang berfungsi rangkap sebagai lemari buku, lemari pajangan dan juga menyimpan segala pernik seperti kacamata, alat menjahit sekedarnya dan beberapa "vandel" (plakat dari kain).

Saat itu beliau bernasehat, sambil "menyuapkan" nasi aking pada ayam-ayam peliharaannya,"Nanti kalian bila sudah besar, hiduplah "sak dermo". Kalau nanti kalian bisa kaya, itu bagus. Jangan menjadi fakir, karena fakir itu dekat dengan kufur. Menjadilah kaya yang bermanfaat. Sak dermo. Tanda hidup sak dermo itu sederhana : saat kalian selalu cukup punya waktu yang berguna. Bila hidupmu nanti sudah serasa dikejar waktu, itu artinya kamu sudah "hidup ngoyo".

Lama sekali setelah itu, tak terdengar kabar pak Ngapuwan. Belakangan kami dengar beliau tetap mengajar agama di SD sederhana kami, hingga akhir hayat.

Belakangan setelah kami lulus SD, berjuang hidup menjadi manusia beneran. Kami mulai tahu apa itu arti hidup sak dermo dan hidup ngoyo. Sak dermo, saya terjemahkan sebagaimana mobil Carry. Dia minim fitur tapi fungsional, tak perlu jok kulit tapi bisa diduduki. Bila gerah tak perlu menyalakan AC, cukup buka jendela. Saya jadi teringat, rumah pak Ngapuwan yang selalu gerah menekan (maklum, di kota Semarang) dan beliau menyiasatinya cukup dengan melepas baju dan hanya sarungan berkaos oblong. Fungsional, tidak ngoyo.

Pak Ngapuwan, jaman itu belum ada Carry atau Camry. Tapi nasehatnya melampaui rancangan manusia itu. Semoga beliau mendapat terbaik di sisi Nya.

Sumber Wall FB seorang teman

Blog, Updated at: 21.56

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook

Blog Archive