PERLU DIINGAT, Hati-hati Pada Prasangka

Posted By Admin on Rabu, 16 November 2016 | 01.17

�Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa�  (al-Hujuraat: 12)
�Hati-hatilah kalian terhadap prasangka. Karena sesungguhnya prasangka adalah berita yang paling dusta.� HR Al-Bukhari (6066) dan Muslim (2563)

Betapa berhati-hatinya Islam mengatur tentang prasangka, sebuah praduga yang sering kali menggelincirkan kita pada permusuhan terhadap saudara sesama muslim. Menjauhi sebagian prasangka (prasangka buruk) adalah bagian dari hak saudara kita sesama muslim, dimana hak orang lain tentu menjadi keharusan bagi kita untuk menunaikannya.


Dalam berinteraksi dengan sesama, kita sering kali terjebak pada prasangka terhadap orang lain entah itu prasangka baik maupun buruk. Keduanya ada sisi baik dan buruk. Ketika kita terlalu beranggapan seseorang baik, kita lupa bahwa kita belum sepenuhnya mengenal dia �meskipun berprasangka baik terhadap sesama muslim adalah sebuah anjuran. Dan ketika kita terlalu beranggapan seseorang buruk, kita lupa bahwa bisa jadi dia tak seburuk itu dan tidak berusaha mencari udzur (permakluman) terhadapnya.
Pembelajaran mengenai prasangka ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Termasuk di dalamnya berprasangka terhadap suami, anak dan keluarga kita yang tentu mereka juga adalah saudara sesama muslim.
Ketika pindahan rumah pekan lalu, beberapa tetangga yang selalu nampak cuek, beberapa yang selalu nampak jutek ternyata mereka pun memiliki kepedulian yang mungkin tak pernah dinampakkan sebelumnya karena memang belum bertemu dengan momen yang tepat. Saya melihat tetangga yang sering nampak menakutkan bagi saya, ternyata turun tangan membantu mengangkat barang.



Saya lebih memilih berhati-hati bergaul dengan tetangga tapi kemudian lupa dengan membiarkan prasangka buruk tetap ada dan abai terhadap prasangka baik. Padahal Imam Ibnul Mubarak pernah menyatakan Seorang mukmin adalah orang yang mencari udzur-udzur (bagi saudaranya). Maksud dari mencari udzur adalah mencari celah untuk kemungkinan prasangka baik berperan.
Hal yang serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mazin: �Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya�. Subhanallah.. Sebaik-baik mukmin adalah yang berhati-hati prasangka terhadap saudaranya.
Abu Qilabah �Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata -sebagaimana dinukil oleh Abu Nu�aim dalam al-Hilyah (II/285): �Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kau tidak sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu. Jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, �Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui�.�
Hamdun Al-Qashshar berkata: �Jika salah seorang dari saudaramu bersalah, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela�
90 udzur lho.. Istilah yang sering kita bilang adalah �cari 1001 alasan untuk berprasangka baik�. Jika dibiasakan mungkin kita akan menemukan bahwa berprasangka buruk itu butuh effort lebih banyak jadi mending berprasangka baiklah.
Ya, berprasangka baik juga bukan berarti kita tidak waspada karena toh kita punya sebuah kemampuan bernama RAS, filter untuk Early Warning System. Tapi dasar keimanan seseorang akan membuat kita percaya bahwa ia pasti tidak menginginkan, tidak mengucapkan dan tidak bertindak kecuali sesuatu yang bermanfaat dan baik.
Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau bawakan pada (makna) yang baik.
Bahkan jika perkataan itu mutasyabih sekalipun. Mutasyabih adalah sebuah perkataan ambigu, samar dan rancu sehingga dapat memiliki makna yang lebih dari satu. Jika masih bisa ditemukan makna positifnya, maka lebih baik ambil saja makna positif tersebut. Akan lebih baik lagi jika kita mampu melaksanakan tabayyun terhadap saudara kita tersebut untuk memastikan makna sebenarnya yang ia maksud.
Wallahu a�lam.

http://esapuspita.com/
Blog, Updated at: 01.17

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook

Blog Archive