Pondok Dingin


(cerita bersambung <1) Tetesan air hujan yang menyentuh kaca jendela paviliun itu membuat tatapan Canda semakin terpana, hanya karena tetesan air hujan itu khayalannya mulai menyebar tanpa arah lalu tercipta ilusi, cerita yang menyedihkan yang selalu diiringi tetesan-tetesan airmata yang mengalir seperti tetesan air hujan itu.
     Tak terasa telah satu jam Canda berdiri dengan khayalannya tanpa satu kata pun yang terucap dari bibirnya, namun sayang khayalannya sekejap lenyap diinjak-injak derap langkah beberapa orang yang yang tiba-tiba menyongsong pintu gerbang bercat putih itu. Canda hanya menatap tanpa berusaha menyambut kedatangan mereka.
� Assalamualaikum Canda, lagi ngapain koq sendiri? �
� Wa�alaikumsalam teh Ani�emm lagi diem aja sih.�
� Oh, awas loh jangan sampai ngelamun nanti kesambet dech.�
� Iya�eh banyak banget temannya, mau ngerjain tugas lagi ya? ..�
�ngak, Cuma kumpul-kumpul aja di kamar, abisnya diluar hujan sih. Ok. Canda, sy masuk dulu ya��
�Oh iya silahkan teh�� jawab Canda sambil mengangguk dan tersenyum pada semua teman teh Ani.
     Walau teh Ani dan teman-temannya mulai menjauh menyusuri koridor utama, Canda masih memperhatikan gerak-gerik mereka dan mendengar gelak tawa mereka yang baginya sesuatu yang tidak perlu ditertawakan seperti itu karena memang tidak lucu.
     Teh Ani adalah salah satu penghuni kost pondok Dingin, ia baru kost sekitar enam bulan dan ia sedang kuliah di universitas swasta. Sedangkan Canda sudah satu tahun kost tapi masih SMU kelas satu. Kebetulan kamar mereka bersebelahan dan Canda merasa cocok berteman dengannya karena baginya teh Ani lebih dewasa dan sangat peduli dengan Canda.Banyak hal yang telah mereka lewati bersama , berdiskusi soal pelajaran sekolah, keluarga bahkan tentang teman masing-masing. Apalagi di saat Canda kesepian terkadang Canda nginep di kamar teh Ani dan mengganggu konsentrasi belajarnya sampai malam, walau begitu teh Ani tidak keberatan dan sangat senang kalau Canda nginep di kamarnya.
     Pondok Dingin sebenarnya hanya sebuah nama kos-kostan, selain menyediakan kost putri, Pondok Dingin menyediakan juga kost putra yang letaknya dibelokan pertama gerbang utama. Meskipun Pondok Dingin di huni putra dan putri, mereka semua dilarang memasuki kost masing-masing, kecuali ruang paviliun yang diperuntukkan untuk semua para penghuni kost dan para pengunjung yang mempunyai teman yang berpenghuni di pondok itu. Di ruangan itu terdapat televisi dan beberapa kursi yang sengaja disediakan untuk menunjang segala aktivitas penghuni dan pengunjung pondok, dimana mereka bisa menghabiskan waktu untuk berkumpul, nonton televisi, dan berbincang-bincang sesama penghuni dan pengunjung pondok. Walaupun bernama Pondok Dingin pada kenyataannya pondok ini tidak sedingin namanya karena di pondok ini selalu tercipta kehangatan antar semua penghuni pondok begitu pun kehangatan yang diberikan oleh sang pemilik Pondok Dingin.
     Canda memutuskan kost di Pondok Dingin karena tidak betah tinggal di rumah orangtuanya, semenjak adiknya meninggal tiga tahun yang lalu, Canda selalu kesepian di rumah apalagi orangtuanya selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Mungkin bagi orangtuanya urusan bisnis lebih utama daripada menemani anaknya di rumah. Orangtua Canda jarang bertanya tentang hal-hal apapun yang berkaitan dengan sekolah Canda, bagi orangtua Canda yang penting raport Canda tidak merah dan sanggup membiayai sekolah, dengan begitu kewajiban sebagai orangtua sudah selesai.
     Bila mengingat orangtuanya, Canda selalu merasa kepalanya menjadi pusing, mungkin canda terlalu berharap adanya perhatian dan kasih sayang lebih dari orangtuanya, namun yang Ia dapat selalu atas nama kesibukan dan bisnis yang menyita waktu orangtuanya. Tapi terkadang Canda terlalu egois ingin selalu dimanjakan padahal  semua hasil kerja keras orangtuanya pasti untuk kesejahteraan dan masa depan Canda juga.
     Canda menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan ke udara dan seketika ketenangan dalam raganya tercipta begitu asri. Sekali lagi Canda menghirup udara dan menghembuskannya lagi ke udara tapi kali ini malah rasa kantuk yang mendera raganya. Perlahan-lahan kedua kakinya melangkah menyusuri koridor utama dan sesekali memandangi bunga-bunga indah yang tertanam di dalam pot-pot yang berwarna jingga yang menghiasi halaman ruangan paviliun itu. Disisi lain terdapat juga kolom-kolom kecil yang membuat halaman semakin asri dan menyejukkan pandangan.
     Akhirnya Canda telah sampai di depan kamarnya lalu membuka pintu dengan cepat karena rasanya bayangan nikmatnya melepas kantuk dan lelah semakin terbius saat matanya melihat kedua bantal di ranjang yang bertata rapi, dengan sengaja ia jatuhkan badannya perlahan di atas ranjang kecil itu dan langsung terpejam kedua matanya.
     Entah berapa lama ia tertidur dengan pulas. Tiba-tiba tangannya meraih Hp diatas meja dan langsung mematikan bunyi alarm, ternyata jam di Hp menunjukkan pukul 4 sore. Canda segera bangkit dari ranjangnya dan bergegas mandi, sholat asyar, dan bersiap-siap menemui teman-temannya untuk berdiskusi tentang acara pengajian di masjid yang terletak di perempatan jalan seberang Pondok Dingin.
     Sepanjang jalan menuju masjid tanpa sengaja Canda melihat teman lamanya Dini, semenjak sekolah SD sampai SMP Canda dan Dini selalu duduk sebangku dan berteman baik layaknya sahabat. Tetapi persahabatan itu mulai terputus karena canda melanjutkan ke SMU dan Dini ke SMEA hingga akhirnya mereka jarang bertemu bahkan sekedar telepon atau sms pun terabaikan.
     Canda senang bertemu dengan Dini dan hendak menyapanya, namun tiba-tiba seorang tangan laki-laki menarik tangan Dini dan mereka pun pergi dengan cepat. Rasa sesal dan sedih menghinggapi perasaan Canda seketika karena sudah lama rasa kangen melihat dan berbincang dengan sahabatnya itu kini tak terwujudkan apalagi kesempatan itu belum tentu terulang lagi.
      Masjid Al-Furqon yang indah dan minimalis, namun unik sudah terlihat tepat di depan dimana dirinya berdiri. Canda bergegas menuju halaman masjid dan membuka pintu utama masjid dengan disertai doa lalu melangkah kakinya menuju ruangan DKM disebelah kanan pintu utama masjid. Dalam ruangan itu banyak sekali remaja yang telah datang dan mereka pun sepertinya telah memulai diskusi tentang pengajian bulan depan. Dengan rasa malu karena telat datang Canda berusaha tenang dan mengikuti kegiatan dengan khitmat.
     Setelah satu setengah jam mereka berdiskusi adzan magrib berkumandang seraya mengajak mereka semua yang berada di masjid melangkahkan kaki ke tempat wudhu dan segera sholat berjamaah. Tanpa berlama-lama lagi setelah sholat Canda segera pulang ke Pondok Dingin karena rasa lapar telah menggelitiki perutnya.
     Setiba di pondok  ia langsung menuju kantin yang berada di ruangan paling depan pondok itu, tempatnya terlihat menghadap jalan raya karena kantin itu selain melayani para penghuni yang kost di pondok Dingin, kantin itu melayani para pembeli dari luar pondok apalagi kebetulan di sekitar pondok Dingin terdapat tempat-tempat kost yang tidak mempunyai kantinnya.
     Sehabis makan dan berbincang-bincang dengan teman-teman yang berada di kantin itu, Canda langsung masuk ke ruangan paviliun dan bergabung dengan penghuni pondok lainnya untuk menonton tv atau sekedar berbincang. Selain nonton tv dan berbincang ada juga yang sedang berdiskusi tentang pelajaran sekolah dan banyak lagi kegiatan yang terjadi di sekitar ruangan itu.
     Malam semakin gelap Canda pun tersihir lagi oleh rasa kantuk dan tidak semangat lagi untuk menonton tv apalagi berkata-kata pada temannya. Canda pamit dan langsung pergi menuju kamarnya. Malam itu ia tidur dengan lelap dan tanpa mimpi yang menghiasi perjalanan tidurnya.
     Pagi pun akhirnya menjelang dan rasa dingin pun mengusap-ngusap kedua kakinya. Canda terbangun karena udara yang semakin mendingin sesuai dinginnya pondok ini, ia pun segera menarik selimut tipis kesayangannya, tapi sejurus kemudian terlihat jam dinding menunjukkan pukul lima. Canda segera memaksakan dirinya untuk bangkit, menyingkapkan selimut tipis itu, dan bergegas mandi disertai wudhu untuk melaksanakan shalat shubuh. Setelah selesai semuanya ia berusaha mengingat-ingat tentang acara atau janji bila ada, tapi ternyata hari itu tidak ada kegiatan apapun atau janji dengan siapa pun. Canda pun senang karena bisa santai di Pondok Dingin apalagi saat itu sekolahnya pun masih libur�(1)...(bersambung dgn judul Sweater Merah)...

Blog Archive