Beda Antara Pengemudi Perempuan dan Pria



 BANYAK yang bilang, perempuan adalah pengemudi paling buruk di dunia. Cap itu melekat di benak jutaan orang di seluruh dunia, terutama kaum pria. Padahal, anggapan itu tak sepenuhnya benar.
     Namun, dengan sederet alasan tersebut bukan berarti semua perempuan adalah pengendara yang buruk. Sekarang banyak juga perempuan dipercaya berada di belakang kemudi. Sopir bus TransJakarta misalnya. Jumlah sopir perempuan tak sebanyak pria, namun itu adalah bukti bahwa perempuan juga bisa.
Perbedaan menyetir pria dan perempuan yaitu :
Pria
1.  Kebanyakan pria merasa lebih baik dalam hal mengemudi dibandingkan wanita terdekatnya sekalipun. Mereka yakin bahwa dirinya berkonsentrasi lebih baik, lebih bisa membaca situasi, lebih jelas dan cepat serta memiliki reaksi yang lebih baik,�
2.  Bahkan satu dari lima pria, mengaku tidak pernah dapat bersantai ketika pasangannya sedang mengemudi,�
3.  laki-laki memiliki kemungkinan mabuk sambil mengemudi empat kali lebih besar, laki-laki memiliki sifat lebih agresif dan menekan tombol klakson tiga kali lebih banyak dan lebih berani mengambil risiko dibanding perempuan.    
4.  bahwa laki-laki lebih mungkin mengemudi dalam keadaan mabuk, menerobos lampu merah, adu kencang dengan pengendara lain atau 'menempel' ketat di belakang kendaraan lain.
5.  Pria lebih rentan terhadap tabrakan, menabrak pohon atau melewati atas dan bawah tanggul.
6.  Menurut para penelitian tersebut, semua itu dipengaruhi oleh DNA. Jiwa 'pemburu' yang ada dalam diri seorang pria memaksa pria menghargai kecepatan dan kekuatan. Meskipun demikian, pria tidak selalu menjadi pengemudi yang buruk.
Perempuan
1.  kemampuan menyetir perempuan memang lebih rendah dibandingkan pria. Penyebabnya adalah perbedaan susunan otak antara perempuan dengan pria. Secara umum, kecakapan mengukur ruang dan bentuk (visual spasial) laki-laki lebih unggul ketimbang perempuan.
2.  Kelemahan perempuan lainnya adalah kecerdasan membaca peta, kurang konsentrasi, daya tahan fisik, serta rentan dipengaruhi pihak luar yang menghakimi kecakapan mengemudi.
3.  bahwa hanya sedikit perempuan memahami konsep mengemudi dengan baik. Pasalnya sebagian besar dari mereka belajar menyetir secara autodidak.
4.  Perempuan sering mengemudi sambil bertelepon, membaca, mengirim SMS, bahkan berdandan, ini yang membuat resiko kecelakaan menjadi lebih besar.
5.  lebih banyak wanita yang memasukkan klaim asuransi karena tabrakan di putaran jalan, dan menabrak mobil dari belakang.
6.  bahwa perempuan memiliki kemungkinan besar mengalami kecelakaan lebih sering dibanding laki-laki meski umumnya tidak terlalu fatal. Dengan kata lain, kemungkinan pria mengalami kecelakaan lebih sedikit dibanding perempuan namun jika terjadi, lebih besar kemungkinannya mengalami kecelakaan fatal dibanding perempuan.
     Di pihak lain, kendati pria sering dianggap sebagai pengendara tangguh, bukan berarti mereka tanpa cacat. Untuk hal-hal tertentu, laki-laki juga kerap melakukan kecerobohan. Hanya saja bedanya jumlah pengemudi perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki. Beberapa tahun terakhir, survei menunjukkan jumlah pengemudi perempuan terus bertambah. Karena itu, mereka disarankan untuk mengembangkan kemampuan berkendara di jalan raya untuk mengurangi risiko kecelakaan.
(sumber:wikiberita&kompas)