Kisah Sultan Murad

Kisah Sultan Muradwahai saudaraku kali ini saya ingin menceritakan kisah Sultan Murad IV, disuatu malam sang sultan merasakan kekalutan hatinya merasa cemas, ia ingin tahu apa sebabnya. lalu beliau memanggil kepala pengawalnya dan mengajaknya keluar untuk jalan-jalan melihat rakyatnya, karena kebiasaannya berjalan melihat rakyatnya di malam hari dengan cara menyamar.

Mereka pun pergi dimalam hari, setelah berjalan lama tibalah mereka di lorong yg sempit. Mereka menemukan pria tergeletak di atas tanah dan telah meninggal. Namun tak ada orang yang mempedulikannya.

Sultan bertanya:
Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun yang mengangkat jenazahnya?

Mereka berkata:
Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras & berzina.
Sultan menimpali:
Tapi...bukankah ia umat Muhammad SAW? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya.

Mereka pun membawa jenazah pria itu ke rumahnya.
Melihat suaminya meninggal,
Dalam tangisnya sang istri berucap:
Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau orang yang sholeh.

Sultan kaget..
Bgmn mungkin dia wali Allah sementara orang-orang mengatakan dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tdk peduli dgn kematiannya.

Sang istri menjawab:
Sudah kuduga pasti akan begini..Setiap malam suamiku membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah dan ditumpahkannya ke toilet, sambil berkata:
Aku meringankan dosa kaum muslimin.

Dia juga pergi menemui pelacur, memberi mereka uang dan berkata:
Malam ini kalian dlm bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.

Kemudian ia pulang ke rumah dan berkata kepadaku:
Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.

Orang-orangpun hanya menyaksikannya selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu menuduhnya dengan berbagai tuduhan.

Aku pernah berkata kepada suamiku:
Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu.

Ia hanya tertawa dan berkata:
Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya.

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata:
Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya.

Akhirnya prosesi jenazah pria itu dihadiri oleh Sultan, ulama, masyaikh dan seluruh masyarakat.

Repost: http://hasbiniy.blogspot.co.id

Jeritan Hati Seorang Istri

Jeritan Hati Seorang IstriAku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
�Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.� Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. �Apalagi??�
�Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?� tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena �musuh�ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, �selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?� kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, �Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?�
Aku merangkulnya sambil berkata �Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.�
Putriku menatapku, �seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?�
Aku menggeleng, �bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.�
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Repost: http://hasbiniy.blogspot.co.id

Jenazah Wanita Sholehah Masih Segar Walaupun Sudah 30 Tahun

Jenazah Wanita Sholehah Masih Segar Walaupun Sudah 30 Tahun
Subhanallah....!!! Seorang anak telah bermimpi didatangi ibunya. Pada ketika itu, ibunya telah meninggal dunia lebih dari 30 tahun. Dalam mimpi tersebut ibunya telah meminta anaknya supaya memindahkan kuburnya bersebelahan dengan kubur suaminya. Mungkin bagi sesetengah kita menganggap ia sekadar satu mainan tidur. Tetapi anaknya dengan bantuan orang ramai telah menggali kubur tersebut dan mendapati jenazah ibunya masih lagi kelihatan segar. Subhanallah, biarpun ia sudah mencecah 30 tahun.

Sugiyem telah meninggal dunia sejak 30 tahun yang lampau. Anaknya sering bermimpi agar kuburnya digali dan dipindahkan berdekatan kubur suaminya. Wanita yang berasal dari Desa Kecamatan Jangkar meninggal dunia pada tahun 1981.

Apa yang pelik mayatnya masih utuh cuma agak kering bahkan kain kafan yang memballut jasadnya masih lengkap. Ini menimbulkan kegemparan pada penduduk setempat. Ia meninggal pada usia yang masih muda iaitu 34 tahun kerana sakit.

Anak sulungnya Subri sering bermimpi ibunya mohon agar makamnya dipindahkan berdekatan makam suaminya. Penduduk setempat yang mengenali Suginem semasa masih hidup menyatakan wanita ini amat setia pada suaminya selain seorang yang sangat pemurah dan penyabar.

Banyak hari ini isteri-isteri kurang sabar dengan karenah suami. Kadangkala mereka mengabaikan makan minum suami dengan alasan mereka wanita berkerjaya. Ingatlah apa kerjayapun� namun tak akan terlepas dari tanggungjawab menguruskan rumahtangga kerana ia adalah tanggungjawab WAJIB seorang isteri. Isteri tidak dipersoalkan tentang nafkah di akhirat meskipun mereka bergaji besar melebehi sisuami. Suami yang tidak mendapat layanan isteri dan merasa tersentuh hati di atas perlakuan isteri memungkinkan isteri tidak akan mencium bau syurga. Jadikan kisah di atas sebagai iktibar.

Semasa hidupnya Sugiyem terkenal sangat solehah, tidak pernah membuka auratnya didepan khalayak, rajin berjamaah di Musholla, gemar menolong sesama dan sangat menurut pada suaminya.

Semoga, Ibu, dan semua saudara perempuan kita tergolong kedalam golongan mereka yang sholehah. Aamiin ya Rabbal�alamin..
Semoga Bermanfaat.

[Sumber : Facebook Ukhuwah Menuju Jalan Allah]

Sifat Perempuan Yang Tak Bisa Dijadikan Istri

Sifat Perempuan Yang Tak Bisa Dijadikan Istri
Bismillahir-Rahmanir-Rahim

Perlu kita ketahui bagaimana Perempuan yang Tak pantas untuk di jadikan istri, Sebelum kita Menuju Keluarga yang bahagia .. Langsung saja, Berikut Sifat-Sifat Buruknya:.....

1.Al -Anaanah
Banyak keluh kesah. Yang selalu merasa tak cukup, apa yang diberi semua tak cukup. Diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi mobil tak cukup, dll. Tak redha dengan pembelaan dan aturan yang diberi suami. Asyik ingin memenuhi kehendak nafsu dia saja, tanpa memperhatikan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. Bukannya hendak menolong suami, apa yg suami beri pun tak pernah puas. Ada saja yg tak cukup.

2.Al-Manaanah
Suka mengungkit. Kalau suami melakukan hal yang dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. sangat senang hendak membicarakan suami: tak ingat budi, tak bertanggungjawab, tak sayang dan macam-macam. Padahal suami sudah memberi perlindungan macam-macam padanya.

3.Al-Hunaanah
Ingin pada suami yang lain atau berkenan kepada lelaki yang lain, sangat suka membanding-bandingkan suaminya dengan suami/lelaki lain. Tak redha dengan suami yang ada.

4.Al- Hudaaqah
Suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka dipaksa suaminya melakukan. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Adakalanya dengan berbagai ancaman: ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami, dll. Suami dibuat seperti budaknya, bukan sebagai pemimpinnya. Yang dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.

5.Al -Hulaaqah
Sibuk bersolek atau tidur atau santai2 dll hingga lalai dengan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, seperti sholat, wirid zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dengan anak-anak, dll.

6.As-Salaaqah
Banyak berbicara, menggosip. Siang malam, pagi petang asik menggosip terus. Apa saja yang suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang ini bergosip bukan saja berbicara didepan suami, tapi dengan telfon, SMS, internet, BBM dan macam-macam cara yang lain. Yang jelas isteri itu asyik menyusahkan suami dengan kata-katanya yang menyakitkan.


Repost: http://hasbiniy.blogspot.co.id

Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib RA

Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib RA
Ada rahasia terdalam di hati �Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh mempesonanya.


Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn �Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!....

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka�bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

�Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu �Anhu.

�Allah mengujiku rupanya�, begitu batin �Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti �Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara �Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda�wah.

Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; �Utsman, �Abdurrahman ibn �Auf, Thalhah, Zubair, Sa�d ibn Abi Waqqash, Mush�ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti �Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, �Abdullah ibn Mas�ud..Dan siapa budak yang dibebaskan �Ali?

Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. �Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. �Inilah persaudaraan dan cinta�, gumam �Ali. �Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.� Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan �Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.

Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. �Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. �Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah �Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyaksikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyaksikan semua pembelaan dahsyat yang hanya �Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu, �Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, �Aku datang bersama Abu Bakar dan �Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan �Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan �Umar..� Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana �Umar melakukannya. �Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu �Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. �Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka�bah.

�Wahai Quraisy�, katanya. �Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.

Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang �Umar di balik bukit ini!�

�Umar adalah lelaki pemberani. �Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. �Umar jauh lebih layak. Dan �Ali ridha. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka �Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran �Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti �Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul �Ash ibn Rabi� kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya �Abdurrahman ibn �Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa�d ibn Mu�adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa�d ibn �Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

�Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?�, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..�

�Aku?�, tanyanya tak yakin.

�Ya. Engkau wahai saudaraku!�

�Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?�

�Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!�

�Ali pun menghadap Sang Nabi.

Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

"Engkau pemuda sejati wahai �Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, �Ahlan wa sahlan!�

Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya?Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

�Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?�

�Entahlah..�

�Apa maksudmu?�

�Menurut kalian apakah �Ahlan wa Sahlan� berarti sebuah jawaban!�

�Dasar kamu tidak mengerti, kata mereka,

�Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!� Dan �Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, �Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. �Ali adalah gentleman sejati.

Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, �Laa fatan illa �Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!�

Inilah jalan cinta para pejuang.

Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti �Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada �Ali,

�Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda�

�Ali terkejut dan berkata, �kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku?
dan Siapakah pemuda itu�

Sambil tersenyum Fathimah berkata, �Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu�

Kemudian Nabi saw bersabda: �Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.�

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

�Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.� (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Diambil dari "Jalan Cinta Para Pejuang" karangan Salim A. Fillah

Kepintaran Si Bodoh

Suatu ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, "Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal"

"Masak, apa iya?" jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, "Benu, kamu boleh pilih & ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!"

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil."

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, "Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?"

Benu pun tertawa kecil berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari..."


Kisah Syekh Abdul Qodir Jailaniy

Kisah Syekh Abdul Qodir Jailaniy
Ada sebuah kisah yang terjadi kepada Syeikh Abdul Qadir Jailani. Dia didatangi oleh pemuka-pemuka kota Baghdad untuk diajak bersama dalam satu majlis ibadah malam secara beramai-ramai. Dia menolak tetapi pemuka-pemuka tersebut berkeras juga mengajak beliau hadir. Untuk dapat berkat, kata mereka. Akhirnya, dengan hati yang berat, Syeikh Abdul Qadir bersetuju untuk hadir.


Pada malam berkenaan, di satu tempat yang terbuka,beratus-ratus orang hadir dengan melakukan ibadah masing-masing.Ada yang bersolat. Ada yang berwirid. Ada yang membaca Al-Quran. Ada yang bermudzakarah. Ada yang bertafakur dan sebagainya. Syeikh Abdul Qadir duduk di satu sudut dan hanya memerhatikan gelagat orang-orang yang beribadah itu.

Di pertengahan malam, pihak penganjur menjemput Syeikh Abdul Qadir untuk memberi tadzkirah. Dia coba mengelak tetapi didesak berkali-kali oleh pihak penganjur. Untuk dapat berkat, kata mereka lagi. Akhirnya dengan hati yang sungguh berat, Syeikh Abdul Qadir bersetuju.

Tadzkirah Syeikh Abdul Qadir ringkas dan pendek saja.Dia berkata:

Tuan-tuan dan para hadirin sekelian. Tuhan tuan-tuan semua berada di bawah telapak kaki saya.

Dengan itu, majlis terkejut dan menjadi gempar dan riuh rendah.Para hadirin merasa terhina dan tidak puas hati.Bagaimanakah seorang Syeikh yang dihormati ramai dan terkenal dengan ilmu dan kewarakannya boleh berkata begitu terhadap Tuhan mereka. Ini sudah menghina Tuhan. Mereka tidak sanggup Tuhan mereka dihina sampai begitu rupa.

Mereka sepakat hendak melaporkan perkara itu kepada pemerintah. Apabila pemerintah dapat tahu, diarahnya qadhi untuk menyiasati dan mengadili Syeikh Abdul Qadir dan jika didapati bersalah, hendaklah dihukum pancung.

Pada hari pengadilan yang dibuat di khalayak ramai,Syeikh Abdul Qadir dibawa untuk menjawab tuduhan.

Qadhi bertanya, Benarkah pada sekian tempat, tarikh dan masa sekian, Tuan Syeikh ada berkata di khalayak ramai bahawa tuhan mereka ada di bawah tapak kaki Tuan Syeikh?

Dengan tenang Syeikh Abdul Qadir menjawab, Benar, saya berkata begitu.

Qadhi bertanya lagi, Apakah sebab Tuan Syeikh berkata begitu?

Jawab Syeikh Abdul Qadir , Kalau tuan qadhi mau tahu, silahkan lihat telapak kaki saya.

Maka Qadhi pun mengarahkan pegawainya mengangkat kaki Syeikh Abdul Qadir untuk dilihat telapak kakinya. Ternyata ada duit satu dinar yang melekat di tapak kakinya. Qadhi tahu Syeikh Abdul Qadir seorang yang kasyaf.

Fahamlah qadhi bahawa Syeikh Abdul Qadir mahu mengajar bahawa semua orang yang beribadah pada malam yang berkenaan itu sebenarnya tidak beribadah kerana Tuhan. Tuhan tidak ada dalam ibadah mereka. Hakikatnya, mereka tetap bertuhankan dunia yang duit satu dinar itu menjadi lambang dan simbolnya.

Kalau di zaman Syeikh Abdul Qadir Jailani pun manusia sudah hilang Tuhan dalam ibadah mereka, apalagi di zaman sekarang ini. Itu dalam ibadah. Kalau dalam hidup seharian, sudah tentu Tuhan tidak ada dalam hidup dan hati kita.


Repost: http://hasbiniy.blogspot.co.id

Kutahan Amarahku.. Suamiku

Kutahan Amarahku.. Suamiku�
Suatu hari, dua orang wanita yang bersahabat saling bertemu dan bertukar cerita. Salah satu dari mereka lalu mengungkapkan rasa penasarannya bahwa sahabatnya terlihat sangat jarang sekali marah kepada sang suami, atas bagaimanapun perlakuan yang diterimanya.Lalu sang sahabat berkata�.Ketika kemarahan itu sudah sampai diubun-ubun, lalu aku masih menahannya dan mencoba tetap mendidik diriku untuk tetap mengingat, betapa jasanya yang dalam himpitan kesusahan, lelah dan penat, dia berusaha mencukupi nafkah untuk aku dan keluargaku. Dan tidak jarang pula, akhirnya dia melupakan perawatan atas dirinya sendiri. Aku seperti halnya kamu, adalah seorang wanita yang diciptakan lebih lemah dari pada lelaki. Dan saat kelemahanku itu hadir dan mengusik mereka, seribu satu kemakluman beliau hadirkan untuk tetap mengerti kekuranganku sebagai wanita. Terkadang keegoisan kami sama-sama datang, namun naluri mengalahnya atas perempuan manja yaitu aku, akan segera dimunculkan olehnya. Direngkuhnya aku dan terucaplah perkataan maaf. Dan, dari disanalah perdamaian kami tercipta. Dan kamipun semakin bertambah mesra.Tapi�.Tidak jarang pula, ketika rasa �keunggulannya� sebagai lelaki hadir dan membuatnya sedikit terbawa dalam ego, hal itu memang membuatku sedikit sakit hati, yah aku kan hanya manusia. Namun kesempatan itu tidak aku sia-siakan, aku tata batinku sedemikian rupa sehingga aku terlihat menyenangkannya dalam luasnya hatiku menerimanya. Aku yakin, Allah yang Maha melihat akan lebih ridho kepadaku saat itu.Saat tiada teman berbagi, dialah yang menyediakan pundaknya yang kuat untukku menangis. Kekuatan pikiran dalam logisnya dia berpikir, yang jelas-jelas memang lebih kuat dari pada aku, akhirnya memberi ruang bagiku sejenak untuk merasa nyaman dan terlindungi. Sekuat-kuatnya wanita didunia ini, tapi sesuai dengan fitrahnya, wanita tetap dan pasti akan merasa butuh diayomi oleh laki-laki.Rasanya tiada teman yang paling pantas aku akrabi selain suamiku. Dan memang sebagai manusia biasa, dia tidak akan lepas dari kekurangan, seperti halnya aku. Lalu setelah semua itu aku sadari, untuk alasan apalagi aku harus menuntutnya menjadi sempurna? Dan dalam keterbatasan serta kekurangannya sebagai manusia, masih pantaskah aku menuntutnya untuk harus selalu berlaku dan memberi lebih kepadaku?

Dan bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri atasnya, namun� dengan kalimatku ini, aku mencoba sadar diri, betapa aku mempunyai banyak kekurangan sebagai wanita. Dan dia tetap memilih aku, dan memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu hidupnya denganku, membimbing, mengayomi, dan menafkahi aku. Lalu� berilah aku satu alasan, dari celah mana aku bisa tetap beralasan untuk tidak bisa menahan lidahku atas suamiku?

Dengan menahan kemarahanku padanya, insyaAllah akan memberi gambaran jelas tentang diriku, istrinya, yang sebenar-benarnya. Jika aku selama ini belum dapat membuatnya bangga, mungkin saat inilah yang tepat bagiku mengukir kenangan yang dapat membanggakannya. Membuatnya bangga bahwa aku adalah istri yang dapat tetap mengertinya, bahkan dalam keadaan marah sekalipun. Setelah itu, aku yakin dia akan berkata pada hatinya, bahwa dia bersyukur telah meletakkan pilihan atas separoh hidupnya kepadaku.

Dan apakah kau tahu, bahwa suamiku adalah ladang amal yang InsyaAllah akan membawa ku kepada surga Allah yang abadi. Keridhoannya adalah kunci pembuka pintunya, dan mengalah sedikit bukan berarti menjadi budaknya, namun sikap sabar itu yang justru akan memuliakan kita dihadapannya.

Maka, aku belajar untuk tidak merelakan hidup dan hatiku diatur oleh rasa. Rasa amarah, rasa benci, dan apapun yang justru akan membelokkan fokusku dari menghimpun pahala dari sang maha kuasa. Maka dari itu pula, aku ingin mencintai suamiku karena Allah. Hanya karena Allah saja. Jadi setiap kali aku marah kepadanya, aku akan kembali mengingat Allah dan mengingatnya hanya sebatas manusia yang penuh dengan kekurangan, seperti halnya aku. Hal itu yang menjauhkanku dari penghakiman apapun atas suamiku. Setelah itu, betapa hanya keteduhan yang akhirnya memenuhi hatiku, dan hilanglah amarahku.

Dari Ibnu Umar ra. berkata, Rasullullaah SAW. Bersabda :
�Setiap orang di antaramu adalah penanggung jawab dan setiap orang diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah penanggung jawab atas umatnya, ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami penanggung jawab atas keluarganya, ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya, seorang istri penanggung jawab atas rumah tangga suaminya (Bila suami pergi), ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya.� ( HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi )

Semoga bermanfaat dan menjadi hikmah..

repost: http://hasbiniy.blogspot.co.id

Janji Seorang Istri

Janji Seorang Istri
Suamiku, saat janji indah kau ikrarkan didepan wali dan saksi untukku, disaat kau HALALkan aku bagimu..

Semoga saat itu adalah awal pengabdianku menjadi makmum yang SHOLEHAH bagimu..

Mengabdikan diri sepenuh jiwa raga bagimu,berjuang bersama menegakkan panji islam itu tekad ku, kau adalah TERINDAH bagiku..


Suamiku,Segala ucapan itu adalah titah bagiku selama itu BAIK dalam syariat..

Dengan ikhlas aku akan jalani dan menjunjung tinggi perintah mu,bersama arungi bahtera kehidupan baru..

Menciptakan keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah dan barakah..
Yang akan menjadi madrasah bagi buah hati kita..

Membentuk mujahid dan mujahidah, yang di tangannya ada semangat JIHAD menegakkan panji-panji islam..

Berjuang dengan hati dan jiwanya,sebagai syuhada dengan balutan kasih sayang yang indah..

Suamiku,, ajarkan apa-apa yang aku belum ketahui, tuntun aku ke jalan yang ALLAH Ridhai..Jadikanlah dirimu pelindung bagiku..

Suamiku,Aku sayang padamu..
Izinkan sayang ini mendampingi hingga ALLAH memisahkan kita melalui malaikat maut_NYA..

Suamiku,aku adalah Wanita,makhluk yang perasaannya sangat halus..
Kerananya, bicaralah yang baik dan bijak ketika menasehati ku..

Ku hanya ingin gapai keridhaanmu,kerana Ridhamu adalah Ridha RABB_ku..
Kala ikhlasmu mengantarkan ku ke Syurga_Nya..

Insya ALLAH..
Aamiin Allahumma Aamiin

Repost: http://hasbiniy.blogspot.co.id

Kisah Nyata! Seorang Pemuda Jatuh Cinta pada Arwah Penasaran

Kisah Nyata! Seorang Pemuda Jatuh Cinta pada Arwah PenasaranCinta memang buta. Sampai-sampai tidak tahu jika pasangan yang diajaknya bercinta itu adalah arwah yang mati penasaran. Cerita ini dialami seorang pemuda yang tinggal di Klaten, dia menjalani percintaan dengan seorang gadis yang bertahi lalat di pipi kiri.

Gadis yang sekarang ada dalam bayangannya itu mengaku bernama Riana, tinggal tidak jauh dari rumah Deny yang baru. Cerita ini sendiri dialami ketika Deny bersama keluarganya pindah ke rumah yang baru, jaraknya sekitar 25 km dari arah Klaten.

Karena ada tugas baru di sebuah kecamatan, keluarga besar mereka terpaksa pindah di sebuah desa yang cukup terpencil. Semula Deny merasa kesepian, tidak ada teman yang bisa diajak berbincang. Di lingkungan barunya dia masih merasa asing.

Kisah Nyata! Seorang Pemuda Jatuh Cinta pada Arwah Penasaran

Sampai suatu malam sewaktu datang dari kota, Deny melihat seorang gadis yang tampaknya kemalaman. Dia berdiri sendirian di pinggir jalan, tidak jauh dari desanya. Setelah dipapas dengan sepeda motor yang dikendarainya, gadis itu mengaku berasal dari desa yang sama dengan Deny.

Karena tidak keberatan pulang bersama-sama, mereka berdua akhirnya berboncengan. Sepanjang perjalanan keduanya saling bertanya tentang asal-usul masing-masing, terutama alamat dan rumahnya. Hanya saja, Riana tidak begitu jelas memberikan alamat rumahnya, dia bilang tidak jauh dari rumah Deny.

Sewaktu keduanya berpisah di sebuah gang yang tidak seberapa lebar, dalam batin Deny mengagumi kecantikan Riana. Apalagi, setelah diteliti secara seksama, dia malah terkesima menyaksikan tahi lalat kecil bertengger di pipi kirinya. "Ah, sungguh luar biasa manisnya gadis licah ini," pikir Deny.

Diam-diam dalam hati Deny menanam harapan cintanya pada Riana. Dia benar-benar telah jatuh cinta ! Hingga suatu malam keduanya bertemu lagi di sebuah poskampling. Kesempatan itu tidak sedikitpun diluangkan Deny untuk dapat mengungkap isi hati Riana. Sampai satu penuturan sulit dipercaya meluncur dari bibir Riana.

"Aku sejak bertemu sebenarnya ingin mengatakan kalau sudah kenal sejak mas Deny datang ke desa ini. Cuma aku enggak berani aja untuk mendekati mas," tuturnya dengan manja. Penuturan itu sebenarnya membuat Deny bingung, karena merasa belum pernah mengenal Riana. Tapi bagaimana dia bisa mengenalnya lebih dulu?

"Ah, biarin aja. Mungkin dia sudah lama mengidolakan saya," batin Deny jadi gede rumangsa. Tak terasa malam semakin larut, Riana buru-buru meminta untuk diantar pulang. Deny sendiri jadi kebingungan sebab belum pernah diberitahu alamat rumahnya. Riana selalu bilang dekat rumah Deny. Tapi sebelah mana? "Itu lho yang dekat dengan rumah sebelah mas. Pokoknya disekitar situ. Nanti mas nganternya sampai rumah sebelah saja ya," ujar Riana.

Tapi Maya hanya tersenyum saja melihat aku kebingungan dengan tingkahnya hari ini, dan yang lebih membingungkan lagi ketika aku sadar ternyata selama ini aku belum pernah tau di mana Maya tinggal. Yang aku tau Maya tinggal 100 meter dari sekolahku, entah mengapa jika aku bertanya dan ingin ke rumahnya, Maya selalu menolak dan langsung mengalihkan pembicaraan. Kalo sudah begitu aku cuma bisa diam dan tak bisa berkata apa-apa lagi.

Suatu hari pamanku datang dan semenjak itu aku tau siapa Maya sebenarnya. Pagi itu paman datang dengan membawa suatu barang yang entah kami sekeluarga tidak mengetahui apa maksud semua itu. Tak berapa lama paman berbincang-bincang dengan ayah dan ibu di teras depan. Entah apa yang dibicarakan dan aku mungkin tak terlalu ambil pusing, sampai tiba-tiba aku dipanggil bik Sumi, katanya aku dipanggil ayah dan ibuku.

Setelah aku mendekat, entah bagaimana tiba-tiba aku melihat ibu sedang menangis dan ayah terlihat pucat sekali, ketika itu aku juga melihat paman memandangku dengan pandangan yang tajam sekali. Semua itu membuat aku semakin bingung saja dan ketika aku bertanya apa yang terjadi, malahan ibu semakin menangis dan menangis, membuat aku semakin tak mengerti. Sampai pamanku akhirnya mengatakan sesuatu yang diluar masuk di akal sehat, "Ron, apakah kamu akhir-akhir ini merasakan hal yang aneh dan menyeramkan ?" ditanya seperti itu aku makin bingung.

"Tidak, aku tidak pernah merasakan apa yang paman katakan tadi ?" aku lihat paman sedikit pucat dan entah mengapa tiba-tiba paman membaca suatu ayat Al-Quran yang entah surat apa, semua itu membuat aku jadi bertanya-tanya. Setelah selesai paman berkata "Ron, apa kamu kenal dengan gadis yang bernama Maya ?" tersentak aku dibuatnya, mengapa paman kenal dengan Maya dan bagaima paman mengenalnya. Mungkin paman tau apa yang aku pikirkan, dan langsung menjelaskan mengapa paman kenal dengan maya.

Ternyata Maya adalah anak dari pembantu paman yang meninggal 8 tahun yang lalu karena bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri di pohon mangga di depan rumahku. Bagai disambar petir aku menolak mengakuinya, mungkin saja Maya yang paman maksud bukan Maya yang aku cintai selama ini. Tapi setelah paman menyebutkan ciri-cirinya, maka baru aku percaya, memang Maya itu yang telah lama aku cintai dan menjadi pacarku selama ini.

Kemudian paman memberikan aku sebuah tulisan Arab yang entah apa maksudnya dan artinya, tapi karena ibu yang menyuruh aku menerimanya maka aku terima. Entah mengapa aku jadi takut untuk bertemu Maya lagi, dan aku baru sadar dengan tingkah aneh yang dilakukan Maya kemarin malam.

Semenjak aku menyimpan kertas pemberian paman, Maya tak pernah datang dan aku juga tak pernah melihatnya lagi, entah dia sudah menghilang atau takut, sampai suatu hari aku menerima sepucuk surat dengan tidak disertai nama pada amplopnya.

Setelah membaca surat dari maya itu aku tak sadarkan diri, entah aku harus bagaimana apakah aku harus sedih atau senang aku tak tahu

Keinginan Seorang Istri

Kepada semua suami-suami di dunia, inilah yang sebenarnya diinginkan para istri.

Suamiku,

Mungkin pernah tersirat di dalam benakmu bahwa kau telah salah memilihku menjadi pasanganmu. Kadang kala aku mengganggumu dengan semua rajuk manjaku. Aku juga sering membatasi kebebasanmu yang tak sama lagi seperti dulu. Aku sering mengusirmu karena asap rokok itu. Bahkan tertidur lebih dulu saat kau pulang larut malam.

Tetapi, di saat kau sibuk dengan pekerjaanmu, ingatlah bahwa aku selalu setia menunggumu. Kudoakan kau di dalam kecemasanku.

Dan saat aku rela pergi bersama dirimu, ingatlah bahwa ada banyak orang yang kutinggalkan demimu. Orang tuaku, sanak saudaraku, sahabat-sahabatku. Dan kubiarkan kau mengisi seluruh kekosongan hatiku.

Saat aku tak sengaja melakukan sebuah kesalahan. Janganlah ego dan kekasaran yang ditunjukkan. Tetapi perlakukan aku dengan lembut dan bicaralah dalam ketenangan.

Saat aku ingin kau menemaniku, dan kau terlarut dalam kesibukanmu, hatiku teriris dan haus akan perhatianmu. Yang kupinta adalah sedikit perhatianmu itu.

Saat kau ingin pergi dan aku ingin kau tinggal di sisiku, percayalah itu bukan melulu karena cemburu. Tetapi karena aku tak ingin jauh darimu.

Saat aku menangis tersedu, aku ingin kau memelukku dan mengatakan "semuanya akan baik-baik saja."

Saat aku sedang gusar, peganglah tanganku. Tanpa berkata apapun aku tahu bahwa kau tak akan pernah meninggalkan aku.

Ceritakan semuanya kepadaku, bukan seperti kau bercerita kepada pasanganmu, tetapi seperti kau kepada sahabatmu.

Apabila keinginanku mulai terlalu banyak, ingatkan aku untuk selalu bersyukur memilikimu. Dan bahwa semua yang dimiliki di dunia ini akan kita tinggalkan kelak.

Dan bila aku dikalahkan oleh rasa kantukku, bangunkan aku dengan lembut. Ingatkan aku akan tanggung jawab yang belum kuselesaikan. Bukan dengan suara garang yang membuat nyaliku ciut.

Ketika kau sedang terhanyut dalam lautan emosi, pandang mataku dalam-dalam. Jauh di dalam beningnya, ada cinta untukmu, dan akulah yang kau cintai itu.

Aku yang selalu mencintaimu,

Istrimu.


Cerita Tentang Kupu-Kupu

Suatu hari seorang gadis kecil menemukan sebuah kepompong di halaman rumahnya yang akan mengeluarkan seekor kupu-kupu. Teringat akan keindahan warna kupu-kupu, gadis kecil itu menunggunya dengan sabar. Sebuah lubang kecil tampak mulai terbuka. Tampak kupu-kupu berjuang keras berusaha keluar dari lubang yang belum sepenuhnya terbuka tersebut. Lama sekali gadis tersebut menunggunya dan tidak tampak kupu-kupu tersebut akan berhasil keluar.

Gadis kecil tersebut merasa kupu-kupu tersebut tidak akan dapat keluar dan ia memutuskan untuk membantunya. Kemudian ia mengambil sebuah gunting dan menggunting lobang kecil tersebut menjadi sedikit lebih besar sehingga kupu tersebut dapat keluar.

Tak lama setelah lubang tersebut terbuka, kupu-kupu tersebut dapat keluar dengan mudah. Tapi alangkah terkejutnya si gadis kecil ketika melihat tubuh kupu-kupu tersebut membengkak dengan sayap yang keriput. Gadis itu tetap menunggu dengan sabar berharap sayap kupu tersebut melebar dan menjadi normal sehingga dapat digunakan untuk terbang. Lama sekali ia menunggu berharap hal tersebut terjadi, tapi tak ada perubahan apapun dan hari itu ia mendapati kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang di sisa hidupnya dan hanya akan terus merangkak di tanah sampai ajal menjemputnya.

Pelajaran apa yang dapat diambil dari kisah di atas? Apakah gadis kecil tersebut tidak cukup baik menolong kupu-kupu itu untuk keluar dari kepompongnya?

Ternyata kepompong yang tertutup tersebut dan perjuangan kupu-kupu untuk keluar dari kepompong diperlukan untuk memaksa cairan dalam tubuh kupu-kupu menyebar ke sayapnya hingga siap dipakai untuk terbang.

Persis seperti kita dalam menjalani kehidupan, bahwa hidup tanpa hambatan akan membuat kita lemah dan melumpuhkan kita. Dan kita tidak akan pernah bisa "TERBANG"


Kisah Seorang Suami Yang Tergila-gila Pada Istrinya

Kisah Seorang Suami Yang Tergila-gila Pada Istrinya
Seorang Ayah bercerita pd anak perempuannya, Suatu hari seorang wanita tua diwawancarai oleh seorang presenter dalam sebuah acara tentang rahasia kebahagiaannya yang tak pernah putus. Apakah hal itu karena ia pintar memasak? Atau karena ia cantik? Atau karena ia bisa melahirkan banyak anak, ataukah karena apa?

Wanita itu menjawab :
�Sesungguhnya rahasia kabahagiaan suami istri ada di tangan sang istri, tentunya setelah mendapat taufik dari Allah. Seorang istri mampu menjadikan rumahnya laksana surga, juga mampu menjadikannya neraka. Jangan Anda katakan karena harta ! Sebab betapa banyak istri kaya raya namun ia rusak karenanya, lalu sang suami meninggalkannya.

Jangan pula Anda katakan karena anak-anak !
Bukankah banyak istri yang mampu melahirkan banyak anak hingga sepuluh namun sang suami tak mencintainya, bahkan mungkin menceraikannya. Dan betapa banyak istri yang pintar memasak. Di antara mereka ada yang mampu memasak hingga seharian tapi meskipun begitu ia sering mengeluhkan tentang perilaku buruk sang suami.�

Maka sang peresenter pun terheran, segera ia berucap:
�Lantas apakah ?rahasia? nya..?�

Wanita itu menjawab:
�Saat suamiku marah dan meledak-ledak, segera aku diam dengan rasa hormat padanya. Aku tundukkan kepalaku dengan penuh rasa maaf. Tapi janganlah Anda diam yang disertai pandangan mengejek, sebab seorang lelaki sangat cerdas untuk memahami itu.�

�Kenapa Anda tidak keluar dari kamar saja..?� tukas presenter.

Wanita itu segera menjawab:
�Jangan Anda lalukan itu! Sebab suamimu akan menyangka bahwa Anda lari dan tak sudi mendengarkannya. Anda harus diam dan menerima segala yang diucapkannya hingga ia tenang. Setelah ia tenang, aku katakan padanya;
'Apakah sudah selesai?'
Selanjutnya aku keluar�. Sebab ia pasti lelah dan butuh istirahat setelah melepas ledakan amarahnya. Aku keluar dan melanjutkan kembali pekerjaan rumahku.�

�Apa yang Anda lakukan? Apakah Anda menghindar darinya dan tidak berbicara dengannya selama sepekan atau lebih?� tanya presenter penasaran.

Wanita itu menasehati :
�Anda jangan lakukan itu, sebab itu kebiasaan buruk. Itu senjata yang bisa menjadi bumerang buat Anda. Saat Anda menghindar darinya sepekan sedang ia ingin meminta maaf kepada Anda, maka menghindar darinya akan membuatnya kembali marah. Bahkan mungkin ia akan jauh lebih murka dari sebelumnya.�

�Lalu apa yang Anda lakukan..?� tanya sang presenter terus mengejar.

Wanita itu menjawab:
�Selang dua jam atau lebih, aku bawakan untuknya segelas jus buah atau secangkir kopi, dan kukatakan padanya, Silakan diminum. Aku tahu ia pasti membutuhkan hal yang demikian, maka aku berkata-kata padanya seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.�

�Apakah Anda marah padanya..?� ucap presenter dengan muka takjub.

??Wanita? itu berkata:
�Tidak... Dan saat itulah suamiku mulai meminta maaf padaku dan ia berkata dengan suara yang lembut.�

�Dan Anda mempercayainya..?� ujar sang presenter.

Wanita itu menjawab :
�Ya. Pasti. Sebab aku percaya dengan diriku dan aku bukan orang bodoh. Apakah Anda ingin aku mempercayainya saat ia marah lalu tidak mempercayainya saat ia tenang..?�

�Lalu bagaimana dengan harga diri Anda?� potong sang presenter.

Wanita itu menjawab :
�Harga diriku ada pada ridha suamiku dan pada tentramnya hubungan kami. Dan sejatinya antara ?suami? ?istri? sudah tak ada lagi yang namanya harga diri. Harga diri apa lagi..?!! Padahal di hadapan suami Anda, Anda telah lepaskan semua pakaian Anda!�

Sumber : Ustadz Fairuz Ahmad

8 Pertanda Mahluk Astral Berada di dekat Anda

Keberadaan Hantu memang sering kali ada disekitar kita nah bagaimana caranya untuk mengetahui apakah hantu itu disekitar kita ?. Simak Dengan seksama
1. Perasaan tidak enak
ini dia hal yang buat mengetahui keberadaanya.Awal mulanya anda sedang duduk santai di ruang keluarga dengan meminum secanggir teh ditambah perasaan yang santai dengan suasana yang tenang.Tidak ada angin dan hal lainya.Tiba - tiba saja ada yang
mengganjal di hatimu , Perasaan menjadi gaduh dan tidak enak rasanya di tempat tersebut.Hati - hati jika kejadian ini terjadi.Bisa saja ada hantu yang iseng dan hendak berbuat jahat kepada anda.
2. Suhu berubah derastis
Anda pernah mengalami pada sebuah ruangan dengan suhu normal secara merata.Tiba - tiba saja tubuh kita merasakan suhu yang agak panas ata sebaliknya.Bisa saja hal tersebut menandakan ada hantu sedang lewat di dekat anda. Terdengar Suara Aneh ,Padahal anda duduk diam sendirian di dalam rumah dan tidak ada siapa - siapa kecuali anda sendiri.Secara mendadak seperti ada suara orang melempar
batu , atau suara meraung tidak jelas.Hal
tersebut menandakan bahwa hantu tersebut ingin berkomunikasi dengan kita secara tidak langsung.
3. Mendadak bulu kuduk merinding
Hal ini pasti sering anda alami.Ko bulu kuduk berdiri semua tanpa kita sadari.Ini pertanda ada aura negatif yang ada di sekitar area anda berdiri.
4. Benda Yang bergerak
Benda-benda yang bergerak Kadang-kadang ada barang, seperti peralatan makan dari perak, yang jatuh gemerincing entah di mana. Atau, batu-batu yang beterbangan di rumah. Lampu terus-menerus menyala dan padam. Rumah dan perabotannya bergoyang-goyang, seolah Anda mengalami gempa bumi seorang diri.
5. Anjing
Perilaku anjing menjadi aneh Anda tahu kan, anjing seringkali disebut mampu merasakan kehadiran hantu. Anjing akan menggonggong, atau tiba-tiba meringkuk ketika muncul hantu yang tidak ramah. Tetapi jika hantu yang ramah menampakkan diri, anjing akan mulai mengibas-ibaskan ekornya, lalu duduk dengan tenang seolah ada yang membelai- belainya.
6. Kucing
Selain anjing, kucing juga dapat mendeteksi kedatangan makhluk astral. Bila di sekitanya ada hantu, kucing akan mengangkat bulunya sampai berdiri bila bertemu dengan hantu. Atau dia akan mengeong tanpa henti bila dia merasakan keberadaan di sekeliling ada hantu. Konon katanya kucing merupakan hewan yang dimitoskan sebagai hewan yang selalu dekat dengan hantu terutama kucing yang berbulu hitam pekat. Kucing hitam tersebut dimitoskan sebagai tanda adanya hantu di sekitarnya.
7. Ayam
Ayam pun dapat mendeteksi keberadaan hantu di sekitarnya bahkan jauh dari jangkauannya ayam akan berkokok bukan pada waktunya. Dikarenakan ayam akan berkokok pada saat matahari terbit, sedangkan ayam berkokok pada tengah malam itu menandakan adanya penampakan hantu di sekitarnya atau jauh dari jangkaunya.
8. Penampakan
Nah, ini gambaran yang paling jelas. Hal itu bisa berupa bola berkabut dan berkilauan, atau sosok yang tampak melayang di udara. Sebagian orang yang lain melihat cahaya berkelap-kelip dalam warna biru, oranye, atau amber. Ada juga yang melihat beberapa bagian tubuh, dalam wujud lengan atau kaki. "Hal ini akan terlihat padat, seperti daging," kata Nancy. Bukti paling meyakinkan bahwa sebuah rumah berhantu adalah jika Anda bisa merekam gambar dari hantu itu, bahkan merekam suara-suaranya. "Gunakan rekaman yang baru, lalu atur perekamnya," saran Nancy. "Putar lagi rekamannya, pasti Anda terkejut. Seringkali Anda bisa mendengarkan suara-su Perasaan tidak enak , ini dia hal yang buat mengetahui keberadaanya.Awal mulanya anda sedang duduk santai di ruang keluarga dengan meminum secanggir teh ditambah perasaan yang santai dengan suasana yang tenang.Tidak ada angin dan hal lainya.Tiba - tiba saja ada yang mengganjal di hatimu , Perasaan menjadi gaduh dan tidak enak rasanya di tempat tersebut.Hati - hati jika kejadian ini terjadi.Bisa saja ada hantu yang iseng dan hendak berbuat jahat kepada anda. Suhu berubah derastis , Anda pernah mengalami pada sebuah ruangan dengan suhu normal secara merata.Tiba - tiba saja tubuh kita merasakan suhu yang agak panas ata sebaliknya.Bisa saja hal tersebut menandakan ada hantu sedang lewat di dekat anda. Terdengar Suara Aneh ,Padahal anda duduk diam sendirian di dalam rumah dan tidak ada siapa - siapa kecuali anda sendiri.Secara mendadak seperti ada suara orang melempar batu , atau suara meraung tidak jelas.Hal tersebut menandakan bahwa hantu tersebut ingin berkomunikasi dengan kita secara tidak langsung. Mendadak bulu kuduk merinding , Hal ini pasti sering anda alami.Ko bulu kuduk berdiri semua tanpa kita sadari.Ini pertanda ada aura negatif yang ada di sekitar area anda berdiri.
Sumber: http://seremabis.blogspot.co.id/ 

Jangka Jayabaya, Ramalan yang lambat laun menunjukan kebenaranya

Prabu Jayabaya adalah Raja yang terkenal dari Kerajaan Kediri dimasa lalu. Raja yang disegani ini mengarang sebuah kitab yang berisi tentang ramalan ramalan dari Jayabaya sendiri yang diprediksi akan terjadi di masa mendatang yang disebut Jangka Jayabaya. Berikut Isi Ramalan Ramalan tersebut (Sumber : Wikipedia) :

  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran ---> Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Tanah Jawa kalungan wesi ---> Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang ---> Perahu berjalan di angkasa.
  4. Kali ilang kedhunge ---> Sungai kehilangan mata air.
  5. Pasar ilang kumandhang ---> Pasar kehilangan suara.
  6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak ---> Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sekilan bumi dipajeki ---> Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Jaran doyan mangan sambel ---> Kuda suka makan sambal.
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --->Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman ---> Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik.
  12. Akeh janji ora ditetepi ---> Banyak janji tidak ditepati.
  13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe ---> Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah ---> Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi ---> Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
  16. Barang jahat diangkat-angkat ---> Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci ---> Yang suci (justru) dibenci.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwi t---> Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lali kamanungsan ---> Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan ---> Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang ---> Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak ---> Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu --->Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa ---> Menantang ayah.
  25. Sedulur padha cidra ---> Saudara dan saudara saling khianat.
  26. Kulawarga padha curiga ---> Keluarga saling curiga.
  27. Kanca dadi mungsuh ---> Kawan menjadi lawan.
  28. Akeh manungsa lali asale ---> Banyak orang lupa asal usul.
  29. Ukuman Ratu ora adil ---> Hukuman Raja tidak adil.
  30. Akeh pangkat sing jahat lan ganji l---> Banyak pejabat jahat dan ganjil
  31. Akeh kelakuan sing ganjil ---> Banyak ulah-tabiat ganjil
  32. Wong apik-apik padha kapencil ---> Orang yang baik justru tersisih.
  33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin ---> Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
  34. Luwih utama ngapusi ---> Lebih mengutamakan menipu.
  35. Wegah nyambut gawe ---> Malas untuk bekerja.
  36. Kepingin urip mewah ---> Inginnya hidup mewah.
  37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka ---> Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  38. Wong bener thenger-thenger ---> Orang (yang) benar termangu-mangu.
  39. Wong salah bungah ---> Orang (yang) salah gembira ria.
  40. Wong apik ditampik-tampik ---> Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
  41. Wong jahat munggah pangkat ---> Orang (yang) jahat naik pangkat.
  42. Wong agung kasinggung ---> Orang (yang) mulia dilecehkan
  43. Wong ala kapuja ---> Orang (yang) jahat dipuji-puji.
  44. Wong wadon ilang kawirangane ---> perempuan hilang malu.
  45. Wong lanang ilang kaprawirane ---> Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
  46. Akeh wong lanang ora duwe bojo ---> Banyak laki-laki tak mau beristri.
  47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone ---> Banyak perempuan ingkar pada suami.
  48. Akeh ibu padha ngedol anake ---> Banyak ibu menjual anak.
  49. Akeh wong wadon ngedol awake ---> Banyak perempuan menjual diri.
  50. Akeh wong ijol bebojo ---> Banyak orang gonta-ganti pasangan.
  51. Wong wadon nunggang jaran ---> Perempuan menunggang kuda.
  52. Wong lanang linggih plangki ---> Laki-laki naik tandu.
  53. Randha seuang loro ---> Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  54. Prawan seaga lima ---> Lima perawan lima picis.
  55. Dhudha pincang laku sembilan uang ---> Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Akeh wong ngedol ngelmu ---> Banyak orang berdagang ilmu.
  57. Akeh wong ngaku-aku ---> Banyak orang mengaku diri.
  58. Njabane putih njerone dhadhu ---> Di luar putih di dalam jingga.
  59. Ngakune suci, nanging sucine palsu ---> Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  60. Akeh bujuk akeh lojo---> Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Akeh udan salah mangsa---> Banyak hujan salah musim.
  62. Akeh prawan tuwa---> Banyak perawan tua.
  63. Akeh randha nglairake anak---> Banyak janda melahirkan bayi.
  64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne---> Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  65. Agama akeh sing nantang---> Agama banyak ditentang.
  66. Prikamanungsan saya ilang---> Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Omah suci dibenci---> Rumah suci dijauhi.
  68. Omah ala saya dipuja---> Rumah maksiat makin dipuja.
  69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi---> Perempuan lacur dimana-mana.
  70. Akeh laknat---> Banyak kutukan.
  71. Akeh pengkianat---> Banyak pengkhianat.
  72. Anak mangan bapak---> Anak makan bapak.
  73. Sedulur mangan sedulur---> Saudara makan saudara.
  74. Kanca dadi mungsuh---> Kawan menjadi lawan.
  75. Guru disatru---> Guru dimusuhi.
  76. Tangga padha curiga--->Tetangga saling curiga.
  77. Kana-kene saya angkara murka ---> Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  78. Sing weruh kebubuhan---> Barangsiapa tahu terkena beban.
  79. Sing ora weruh ketutuh---> Sedang yang tak tahu disalahkan.
  80. Besuk yen ana peperangan---> Kelak jika terjadi perang.
  81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---> Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
  82. Akeh wong becik saya sengsara---> Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Wong jahat saya seneng---> Sedang yang jahat makin bahagia.
  84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul---> Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Wong salah dianggep bener---> Orang salah dipandang benar.
  86. Pengkhianat nikmat---> Pengkhianat nikmat.
  87. Durjana saya sempurna---> Durjana semakin sempurna.
  88. Wong jahat munggah pangkat---> Orang jahat naik pangkat.
  89. Wong lugu kebelenggu---> Orang yang lugu dibelenggu.
  90. Wong mulya dikunjara---> Orang yang mulia dipenjara.
  91. Sing curang garang---> Yang curang berkuasa.
  92. Sing jujur kojur---> Yang jujur sengsara.
  93. Pedagang akeh sing keplarang---> Pedagang banyak yang tenggelam.
  94. Wong main akeh sing ndadi---> Penjudi banyak merajalela.
  95. Akeh barang haram---> Banyak barang haram.
  96. Akeh anak haram---Banyak anak haram.
  97. Wong wadon nglamar wong lanang---> Perempuan melamar laki-laki.
  98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe---> Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  99. Akeh barang-barang mlebu luang---> Banyak barang terbuang-buang.
  100. Akeh wong kaliren lan wuda---> Banyak orang lapar dan telanjang.
  101. Wong tuku ngglenik sing dodol---> Pembeli membujuk penjual.
  102. Sing dodol akal okol---> Si penjual bermain siasat.
  103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri---> Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
  104. Sing kebat kliwat---> Yang tangkas lepas.
  105. Sing telah sambat---> Yang terlanjur menggerutu.
  106. Sing gedhe kesasar---> Yang besar tersasar.
  107. Sing cilik kepleset---> Yang kecil terpeleset.
  108. Sing anggak ketunggak---> Yang congkak terbentur.
  109. Sing wedi mati---> Yang takut mati.
  110. Sing nekat mbrekat---> Yang nekat mendapat berkat.
  111. Sing jerih ketindhih---> Yang hati kecil tertindih
  112. Sing ngawur makmur---> Yang ngawur makmur
  113. Sing ngati-ati ngrintih---> Yang berhati-hati merintih.
  114. Sing ngedan keduman---> Yang main gila menerima bagian.
  115. Sing waras nggagas---> Yang sehat pikiran berpikir.
  116. Wong tani ditaleni---> Orang (yang) bertani diikat.
  117. Wong dora ura-ura---> Orang (yang) bohong berdendang.
  118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane--> -Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
  119. Bupati dadi rakyat---> Pegawai tinggi menjadi rakyat.
  120. Wong cilik dadi priyayi---> Rakyat kecil jadi priyayi.
  121. Sing mendele dadi gedhe---> Yang curang jadi besar.
  122. Sing jujur kojur---> Yang jujur celaka.
  123. Akeh omah ing ndhuwur jaran---> Banyak rumah di punggung kuda.
  124. Wong mangan wong---> Orang makan sesamanya.
  125. Anak lali bapak---> Anak lupa bapa.
  126. Wong tuwa lali tuwane---> Orang tua lupa ketuaan mereka.
  127. Pedagang adol barang saya laris---> Jualan pedagang semakin laris.
  128. Bandhane saya ludhes---> Namun harta mereka makin habis.
  129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---> Banyak orang mati lapar di samping makanan.
  130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---> Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
  131. Sing edan bisa dandan---> Yang gila bisa bersolek.
  132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong---> Si bengkok membangun mahligai.
  133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---> Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
  134. Ana peperangan ing njero---> Terjadi perang di dalam.
  135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---> Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
  136. Durjana saya ngambra-ambra---> Kejahatan makin merajalela.
  137. Penjahat saya tambah---> Penjahat makin banyak.
  138. Wong apik saya sengsara---> Yang baik makin sengsara.
  139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan---> Banyak orang mati karena perang.
  140. Kebingungan lan kobongan---> Karena bingung dan kebakaran.
  141. Wong bener saya thenger-thenger---> Si benar makin tertegun.
  142. Wong salah saya bungah-bungah---> Si salah makin sorak sorai.
  143. Akeh bandha musna ora karuan lungane---> Banyak harta hilang entah ke mana
  144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---> Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
  145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---> Banyak barang haram, banyak anak haram.
  146. Bejane sing lali, bejane sing eling---> Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
  147. Nanging sauntung-untunge sing lali---> Tapi betapapun beruntung si lupa.
  148. Isih untung sing waspada---> Masih lebih beruntung si waspada.
  149. Angkara murka saya ndadi---> Angkara murka semakin menjadi.
  150. Kana-kene saya bingung---> Di sana-sini makin bingung.
  151. Pedagang akeh alangane---> Pedagang banyak rintangan.
  152. Akeh buruh nantang juragan---> Banyak buruh melawan majikan.
  153. Juragan dadi umpan---> Majikan menjadi umpan.
  154. Sing suwarane seru oleh pengaruh---> Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
  155. Wong pinter diingar-ingar---> Si pandai direcoki.
  156. Wong ala diuja---> Si jahat dimanjakan.
  157. Wong ngerti mangan ati---> Orang yang mengerti makan hati.
  158. Bandha dadi memala---> Hartabenda menjadi penyakit
  159. Pangkat dadi pemikat---> Pangkat menjadi pemukau.
  160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang ---> Yang sewenang-wenang merasa menang
  161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah---> Yang mengalah merasa serba salah.
  162. Ana Bupati saka wong sing asor imane---> Ada raja berasal orang beriman rendah.
  163. Patihe kepala judhi---> Maha menterinya benggol judi.
  164. Wong sing atine suci dibenci---> Yang berhati suci dibenci.
  165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---> Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
  166. Pemerasan saya ndadra---> Pemerasan merajalela.
  167. Maling lungguh wetenge mblenduk ---> Pencuri duduk berperut gendut.
  168. Pitik angrem saduwure pikulan---> Ayam mengeram di atas pikulan.
  169. Maling wani nantang sing duwe omah---> Pencuri menantang si empunya rumah.
  170. Begal pada ndhugal---> Penyamun semakin kurang ajar.
  171. Rampok padha keplok-keplok---> Perampok semua bersorak-sorai.
  172. Wong momong mitenah sing diemong---> Si pengasuh memfitnah yang diasuh
  173. Wong jaga nyolong sing dijaga---> Si penjaga mencuri yang dijaga.
  174. Wong njamin njaluk dijamin---> Si penjamin minta dijamin.
  175. Akeh wong mendem donga---> Banyak orang mabuk doa.
  176. Kana-kene rebutan unggul---> Di mana-mana berebut menang.
  177. Angkara murka ngombro-ombro---> Angkara murka menjadi-jadi.
  178. Agama ditantang---> Agama ditantang.
  179. Akeh wong angkara murka---> Banyak orang angkara murka.
  180. Nggedhekake duraka---> Membesar-besarkan durhaka.
  181. Ukum agama dilanggar---> Hukum agama dilanggar.
  182. Prikamanungsan di-iles-iles---> Perikemanusiaan diinjak-injak.
  183. Kasusilan ditinggal---> Tata susila diabaikan.
  184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---> Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
  185. Wong cilik akeh sing kepencil---> Rakyat kecil banyak tersingkir.
  186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---> Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
  187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---> Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
  188. Lan duwe prajurit---> Dan punya prajurit.
  189. Negarane ambane saprawolon---> Lebar negeri seperdelapan dunia.
  190. Tukang mangan suap saya ndadra---> Pemakan suap semakin merajalela.
  191. Wong jahat ditampa---> Orang jahat diterima.
  192. Wong suci dibenci---> Orang suci dibenci.
  193. Timah dianggep perak---> Timah dianggap perak.
  194. Emas diarani tembaga---> Emas dibilang tembaga.
  195. Dandang dikandakake kuntul---> Gagak disebut bangau.
  196. Wong dosa sentosa---> Orang berdosa sentosa.
  197. Wong cilik disalahake---> Rakyat jelata dipersalahkan.
  198. Wong nganggur kesungkur---> Si penganggur tersungkur.
  199. Wong sregep krungkep---> Si tekun terjerembab.
  200. Wong nyengit kesengit---> Orang busuk hati dibenci.
  201. Buruh mangluh---> Buruh menangis.
  202. Wong sugih krasa wedi---> Orang kaya ketakutan.
  203. Wong wedi dadi priyayi---> Orang takut jadi priyayi.
  204. Senenge wong jahat---> Berbahagialah si jahat.
  205. Susahe wong cilik---> Bersusahlah rakyat kecil.
  206. Akeh wong dakwa dinakwa---> Banyak orang saling tuduh.
  207. Tindake manungsa saya kuciwa---> Ulah manusia semakin tercela.
  208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---> Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
  209. Wong Jawa kari separo---> Orang Jawa tinggal setengah.
  210. Landa-Cina kari sejodho ---> Belanda - Cina tinggal sepasang.
  211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil---> Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
  212. Sing eman ora keduman---> Si hemat tidak mendapat bagian.
  213. Sing keduman ora eman---> Yang mendapat bagian tidak berhemat.
  214. Akeh wong mbambung---> Banyak orang berulah dungu.
  215. Akeh wong limbung---> Banyak orang limbung.
  216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---> Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.
Hasil gambar untuk jaya baya

Memang Sebagian sudah terbukti kebenaranya , tetapi apakah semua akan terbukti secara akurat ?. Bagaimana Pendapat anda ?. Apakah anda percaya pada ramalan ?. Hanya Tuhan yang bisa membuktikan.

sumber: http://seremabis.blogspot.co.id/