Anak Buta dan Seorang Lelaki

Pagi itu seorang anak buta duduk di depan sebuah gedung perkantoran dengan tangan memegang topi sambil menengadahkannya memohon belas kasihan. Di sebelah anak kecil tersebut terdapat sebuah papan dengan tulisan �Saya buta, tolonglah saya�. Dan terdapat beberapa buah koin rupiah yang berhasil dikumpulkannya.

Sesaat kemudian tampak seorang pria berjalan lewat di depan anak tersebut. Tiba-tiba dia berhenti dan merogoh sakunya serta mengambil satu lembar uang dan meletakkannya di dalam topi tersebut. Kemudian ia menambil papan tulisan tersebut, menghapusnya dan menuliskan sebuah kalimat lain. Lalu ia meletakkannya kembali di tempat semula di samping anak buta tersebut agar setiap orang yang melewati anak tersebut dapat melihat dan membaca tulisan tersebut dengan jelas.

Tak lama setelah itu, tampak topi yang dipegang anak buta tersebut mulai banyak terisi. Hampir setiap orang yang lewat berhenti dan memberi anak buta tersebut uang.

Saat sore tiba, lelaki yang merubah tulisan tersebut kembali melintas di depan anak tersebut. Si anak yang mengenal langkah kaki tersebut berusaha menghentikan dan bertanya, �Bukankan anda yang telah mengubah tulisan di papan ini tadi pagi? Apa yang anda tulis?�



Lelaki tersebut menjawab, �Saya menulis sebuah kenyataan, saya menulis apa yang kamu tulis tapi dengan cara berbeda.�

Lelaki tersebut menulis: �Hari ini sangat indah dan saya tidak bisa melihatnya.�

Apakah pembaca berpikir bahwa tidak ada bedanya tulisan pertama dengan tulisan pengganti tersebut?

Tentu, bahwa kedua tulisan menyebutkan bahwa si anak buta. Tapi tulisan pertama lugas menyebut si anak buta. Sedangkan tulisan kedua memberitahu orang-orang bahwa mereka sangat beruntung masih dapat melihat. Dan ternyata tulisan berbeda dan yang kedua tampak sangat efektif.

Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur (Al-Mu�minun: 78)

Kisah Cinta Romantis Ali dan Fatimah


islamic motivation, cinta, kisah islami, motivasi cinta, Kisah Cinta Romantis Ali dan Fatimah

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu �Anhu

"Allah mengujiku rupanya", begitu batin �Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti 'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda�wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti 'Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, 'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta", gumam 'Ali.

"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku."

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan �Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. 'Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar.."

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana 'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. "Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh lebih layak. Dan 'Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran 'Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul �Ash ibn Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn 'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd ibn Mu'adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa�d ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

"Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. "

"Aku?", tanyanya tak yakin.

"Ya. Engkau wahai saudaraku!"

"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"

"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"

'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

"Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?"

"Entahlah.."

"Apa maksudmu?"

"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan' berarti sebuah jawaban!"

"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,

"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !"

Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti 'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda"

'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?"

Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu" ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut."

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak." (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)


Kisah Romantis ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul "Mencintai sejantan 'Ali"

Kisah Ustad Jeffry Al Buchori, Mantan Pecandu Yang Menjadi Ustad Terkenal


Biografi, Kisah Ustad Jeffry Al Buchori, Mantan Pecandu Yang Menjadi Ustad Terkenal
Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat ini.

Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya.

Aku lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia kami tidak berjauhan.

Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.

Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.

Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua.

Berkepribadian Ganda

Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.

Orang bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah.

Salah satu kenalakanku, di saat yang lain salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.

Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.

Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di pesantren.

Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.

Kenal Dunia Malam

Memang, sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali.

Masa SMA memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah.

Dari perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan.

Aku jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.

Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA.

Main Sinetron

Aku mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting.

Waktu itu, kami masih latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar.

Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka.

Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat peran.

Tahun 1990, aku main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa? Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari beliaulah aku menuruni darah seni.

Ditentang Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini. Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah.

Sebagai bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata.

Pada saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar.

Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku.


�DI KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH�

Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam.

Sejak kenal sinetron, aku makin menyukai dunia akting. Aku tak peduli meski Apih menentangku. Namun, belakangan aku paham, di balik ketidaksetujuannya, sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang kumainkan ditayangkan.

Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.

Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum �on�, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya.

Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus berlangsung.

Kecanduan Kian Parah

Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.

Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.

Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya.

Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.

Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.

Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan.

Nama Dicoret

Tak perlu aku menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas, suatu hari aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Aku benar-benar ketakutan! Aku jadi gampang curiga pada siapa saja. Aku selalu berburuk sangka pada apa pun.

Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku.

Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila.

Pada saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk playboy.

Di saat aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik.

Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku.

Diajak Umi Umrah

Sungguh, aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi.

Aku juga jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek. Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.

Aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah.

Dengan kondisiku yang masih labil dan rapuh, kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini aku berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, aku mengalami beberapa peristiwa yang membuatku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh. Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah.

Aku lalu keluar, berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Aku bersalawat. Begitu keluar dari pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar pada tembok. Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu.

Bagai sebuah film yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang jelas di pelupuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di Mekkah, di hadapan Kabah, aku merapatkan badan pada dindingnya.

Aku bersandar, menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang kulakukan. Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat untuk orang lain, aku minta disembuhkan. Aku yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya. Setelah pulang beribadah, aku membaik. Aku mencoba bertahan dalam kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa.

***

BIDADARI CANTIK JADI PEMBANGKIT HIDUP

Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi istri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustaz cukup berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah. Sepulang umrah, aku mencoba hidup lurus. Namun, lagi-lagi aku tergoda. Suatu malam, aku dan teman-teman berencana nonton jazz di Ancol. Aku memperingatkan mereka untuk tidak bawa narkoba, karena kami sudah sepakat untuk berhenti memakai. Ternyata, salah satu temanku masih saja membawa cimeng. Apesnya, kami dirazia polisi di depan Hailai.

Teman-temanku yang lain kabur. Tinggallah aku, temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain. Aku sulit kabur karena mobil yang kami pakai adalah mobilku. Akhirnya kami bertiga dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti membawa. Kucoba telepon Umi untuk menjelaskan masalah ini, tapi Umi tak mau menerima teleponku.

Si penerima telepon malah diminta Umi untuk mengatakan, beliau tak punya anak bernama Jeffry. Hatiku tercabik-cabik. Pedih rasanya tak diakui sebagai anak oleh Umi. Kuakui, pastilah hati Umi sudah sedemikian sakitnya. Bayangkan, aku yang sebelumnya sudah mengaku bertobat, malah kembali memilih jalan yang salah.

Meski aku sudah bersumpah demi Tuhan tidak memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah puncak kemarahan Umi. Sungguh bersyukur, Allah masih berkenan menolongku. Datang seorang gadis cantik dalam hidupku. Ia mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya, banyak gadis meninggalkanku sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta. Gadis bernama Pipik Dian Irawati ini seorang model sampul sebuah majalah remaja tahun 1995, asal Semarang.

Cuek Saat Pacaran

(Berikut ini adalah penuturan Pipik: Aku pertama kali melihatnya sedang makan nasi goreng di Menteng sekitar tahun 1996 � 1997. Rambutnya gondrong. Waktu itu, aku bersama Gugun Gondrong. Setahuku, Jeffry adalah pemain sinetron Kerinduan, karena aku mengikuti ceritanya. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi Gugun melarangku.

Tak tahunya, waktu buka puasa bersama di rumah Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya. Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan saling menelepon. Aku enggak tahu kapan kami resmi pacaran, karena enggak pernah �jadian�. Dia juga tak pernah menyatakan cinta. Waktu pacaran, dia cuek setengah mati.

Awalnya, semangatnya boleh juga. Pertama kami pergi bareng, dia datang ke rumah di Kebon Jeruk, di tengah hujan deras dari rumahnya di Mangga Dua. Jeffry naik taksi dengan memakai jins dan sepatu bot. Ia yang hanya bawa uang Rp 50 ribu, mengajakku nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam bioskop, kami seperti nonton sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton.

Sejak itu, kami sering jalan bareng, karena kami memang hobi nonton dan makan. Semakin dekat dengannya, aku makin tahu ternyata dia pemakai narkoba kelas berat. Teman-temanku mulai bertanya, mengapa aku mau berpacaran dengannya. Aku sendiri tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa sayang yang sudah terlanjur muncul dalam hati yang membuatku mau bertahan. Hatiku terenyuh dan tak mau meninggalkan dia sendiri.

Tentu saja keluargaku tak ada yang tahu, karena sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka baru tahu sekarang, setelah membaca kisah hidupnya di berbagai media. Sementara itu, aku sibuk tur keluar kota sebagai model, sehingga kami sering tak ketemu. Akhirnya kami putus. Waktu akhirnya ketemu lagi, ternyata dia sudah punya pacar lagi. Karena masih sayang, aku sering membawakannya hadiah dan memberi perhatian. Setelah Jeffry putus dari pacarnya, kami kembali bersatu.)

Jualan Kue

Pipik sangat berarti buatku. Dia mengerti, peduli dan perhatian padaku. Padahal, aku sempat hampir menikah dengan orang lain. Ternyata Allah sayang padaku. Allah menunjukkan, wanita yang nyaris kunikahi itu bukan untukku. Pipik bagai bidadari yang datang dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa perubahan besar dalam hidupku.

Aku mendatangi Umi dan minta izin untuk menikah. Luar biasa, Umi tetap menerimaku dengan segala kasih sayangnya. Sambil menangis, Umi mengizinkanku menikah. Aku sendiri terbilang nekat. Sebab, waktu itu aku tak punya apa-apa. Badan pun kurus kering, dengan mata belok, dan penyakit paranoid yang kuderita tak kunjung sembuh. Bahkan, pekerjaan pun aku tak punya.

Untuk menghindari maksiat, kami menikah di bawah tangan pada tahun 1999. Teman-temanku yang sekarang sudah meninggal karena over dosis, sempat menghadiri pernikahanku. Setelah itu, kami tinggal di rumah Umi. Sekitar 4 � 5 bulan setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang.

Namun, menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelanku. Istriku pun merasakan getahnya. Aku pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli barang haram tersebut.

Kesulitan lain, aku dan Pipik sama-sama menganggur. Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami titipkan ke toko kue.

Tapi mungkin rezeki kami bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp 200 � 300. Akhirnya kami berhenti berjualan kue. Kehidupan kami selanjutnya kami jalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran.

Makan Sepiring Berdua

Kesetiaan Pipik begitu luar biasa. Simak penuturannya berikut ini. (Perasaan sayang yang sangat kuat membuatku mantap menikah dengannya. Aku tak peduli lagi meski dia pecandu, bahkan pernah mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya. Aku banyak mengalami hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin aku sudah tidak bersamanya lagi.

Awal menikah, kami tinggal di rumah Umi. Meski hidup seadanya, beliaulah yang membiayai hidup kami. Aku dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja.

Tapi aku yakin, Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku. Beruntung, Umi sangat sayang padaku.

Aku sendiri tak jera memberi masukan padanya untuk mengubah hidup. Kami sama-sama saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan, hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik, terutama setelah aku hamil. Mungkin dia sendiri sudah capek dengan kehidupannya yang seperti itu.)

Hidup di Jalan Allah

Pelan-pelan, aku kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun 2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal karena kanker otak, memintaku menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.

Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan.

Selanjutnya, kakakku memintaku untuk mulai menjadi ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian kupilih. Betapa indah hidup di jalan Allah. Aku mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuanganku tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar.

Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve. Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga punya hak untuk mendapatkan dakwah.

Kebahagiaan kami bertambah ketika tahun 2000 itu, lahir anak pertama kami, Adiba Kanza Az-Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Algifari juga hadir di tengah kami. Mereka, juga istriku, adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan kami makin lengkap rasanya.

Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang lebih baik. Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik.

Wallahu�alam bishshawab, ..
#Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ....


Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...


Ustad Jeffry menulis di twitter, pada 13 April 2013, sehari setelah ulang tahunnya �Pada akhirnya.. Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yg terbaik.. Kembali pada siapa..??? Kpd 'DIA' pastinya.. Bismi_KA Allahumma ahya wa amuut..�

Mungkin Ustaz Jeffry Al Buchori hanya mengingatkan para pengikutnya di akun Twitter untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta. Namun, siapa sangka tweet terakhirnya justru menjadi salah satu tanda ustaz yang akrab dipanggil Uje ini meninggal dalam kecelakaan.

Ustaz yang akrab dipanggil Uje ini meninggal dunia dalam kecelakaan pada hari Jumat, 26 April 2013.


Selamat Jalan Ustazd Uje
Semoga Kau berada di tempat yang tenang di alam sana
Aamiin

Tahap paling sulit dalam kehidupan Anda bukan ketika tidak ada yang mengerti Anda


Tahap paling sulit dalam kehidupan Anda bukan ketika tidak ada yang mengerti Anda,
Justru ketika Anda tidak memahami diri Anda sendiri.

Quote, Tahap paling sulit dalam kehidupan Anda bukan ketika tidak ada yang mengerti Anda

Lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga

motivasi, Lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga

Tiga hari dalam hidup

Hari pertama : hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang,
lepaskan saja�

Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba, dan belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja�

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup.
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan hari esok.

Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri.

Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga.

Mengapa Banyak Orang Pintar Memiliki Kesulitan Komunikasi


psokologi, pikiran, Mengapa Banyak Orang Pintar Memiliki Kesulitan Komunikasi

Apakah Anda pernah memiliki masalah dalam menjaga percakapan dengan orang lain, meskipun fakta bahwa Anda menganggap diri Anda orang yang cukup pintar?

Jika demikian, maka kemungkinan besar Anda meninggalkan kebingungan dan Anda terkejut dengan aktivitas Anda sendiri, karena Anda tahu begitu banyak hal yang menarik.

Faktanya adalah bahwa keterampilan sosial dan kecerdasan tidak selalu berjalan beriringan. Bahkan, orang dengan tingkat kecerdasan rata-rata sering dapat menjaga pembicaraan kecil lebih baik daripada mereka yang jauh lebih pintar dari mereka.

Banyak orang pintar tidak berhasil dalam menjaga percakapan yang menarik dan memiliki keterampilan sosial yang buruk.

Mengapa hal ini terjadi?
Orang pintar sering perfeksionis. Mereka sangat menuntut diri mereka dalam semua yang mereka lakukan. Ketika mereka percaya bahwa mereka telah gagal pada sesuatu, mereka sangat mencela diri mereka sendiri. Jika mereka berpikir bahwa mereka tidak dapat mendukung percakapan yang baik, mereka menjadi lebih gugup dan menarik diri. Kekhawatiran ini mencegah mereka dari mampu untuk bersantai dan menikmati percakapan.

Orang pintar menghabiskan sebagian besar hidup mereka berjuang untuk kemajuan intelektual, tapi lupa untuk mengembangkan sisi sosial dan emosional mereka. Mereka mungkin berpikir bahwa pengembangan keterampilan sosial dan emosional tidak terlalu penting, atau mungkin hanya merasa bahwa pada titik tertentu, sudah terlambat untuk mulai mengembangkan keterampilan baru dan kompleks.

Mereka mungkin sangat serius dan percaya bahwa mereka hanya harus mencurahkan waktu dan diskusi untuk hal-hal serius bukan membuang waktu pada hal-hal sepele. Hal ini menyebabkan mereka dengan cepat kehilangan minat dalam percakapan jika mereka melihat bahwa itu tidak memiliki substansi yang nyata.

Dalam beberapa kasus, orang dengan kecerdasan di atas rata-rata merasa superior dari orang lain, dan berpikir bahwa tidak ada gunanya membuang-buang waktu mereka pada orang-orang yang tidak pantas untuk berbicara dengan mereka. Mereka bisa sok nyata.

Banyak orang pintar yang sangat pemalu, yang membuat mereka merasa bahwa mereka bukan orang-orang yang menarik. Kecerdasan yang tinggi dan harga diri yang tinggi tidak selalu terkait.

Beberapa orang yang sangat pintar, terutama yang kuat dalam sains dan matematika pada khususnya, mungkin menderita dari apa yang disebut sindrom Asperger. Hal ini diyakini bahwa ini terkait dengan autisme dan dapat memanifestasikan dirinya dalam cara yang berbeda.

Cukup sering orang-orang dengan subyek sindrom Asperger, sampai batas tertentu, dapat sangat efektif ketika mereka fokus pada hal-hal ilmiah, tapi tidak mampu untuk membangun interaksi sosial dengan orang lain. Orang-orang seperti ini biasanya berbicara dengan singkat, dan menunjukkan hampir tidak ada kepentingan dalam emosional kehidupan orang lain .

Intelijen hanyalah salah satu aspek kemanusiaan. Tidak peduli seberapa pintar seseorang, kurangnya keterampilan interaksi sosial dapat mempengaruhi kehidupan dan kariernya.

Jadi apa yang harus dilakukan jika Anda adalah salah satu dari orang-orang yang cukup cerdas tetapi mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain?

Pertama, Anda harus bertanya pada diri sendiri apakah mengembangkan keterampilan komunikasi Anda adalah sesuatu yang Anda benar-benar inginkan atau butuhkan?

Jika jawabannya adalah "tidak", maka tidak ada gunanya untuk mencoba untuk memperbaikinya.

Jika jawabannya adalah "ya", maka Anda benar-benar dapat meningkatkan kemampuan berbicara Anda, mengembangkan kemampuan untuk menikmati pembicaraan kecil dan memiliki hubungan baik dengan orang lain.

Anda harus menyediakan waktu untuk berlatih keterampilan baru dan mengubah sikap Anda terhadap diri sendiri dan orang lain. Mengambil komitmen tersebut, Anda cenderung menjadi jauh lebih berhasil dalam berbagai bidang kehidupan Anda.

Sepenggal Kisah Supir Angkot

Pagi itu udara sangat cerah. Jalanan ramai, banyak orang hilir mudik, para pekerja kantoran dan pabrik tampak terburu-buru berangkat. Setiap angkutan umum yang melintas terlihat penuh, dengan kecepatan tinggi mengejar penumpang dan waktu.

Tak lama sebuah pemandangan menarik tampak di tepi jalan ujung sebuah gang. Seorang ibu-ibu dengan tiga anaknya berusaha menghentikan angkot yang lalu lalang. Tetapi setiap kali angkot berhenti, tak lama kemudian angkot tersebut berjalan kembali dan meninggalkan ibu dan ketiga anaknya tanpa menaiki angkot tersebut. Beberapa kali kejadian tersebut berulang.

Tidak begitu lama dari ujung jalan terlihat angkot dengan kecepatan sedang, tidak begitu penuh, dengan pengemudi seorang anak muda yang cukup bersih. Dengan sedikit ragu-ragu ibu tersebut menghentikan angkot tersebut dan terjadilah dialog singkat,

�Dik, lewat terminal ya?� tanya Ibu.

�Iya bu.� Jawab supir angkot tersebut.

Yang aneh, si ibu tidak segera naik tetapi malah berkata, �Tapi saya dan ketiga anak saya tidak punya ongkos.�

Sambil tersenyum, supir itu menjawab, �Nggak apa-apa Bu, naik saja�.

Si Ibu tampak ragu-ragu, dan supir-pun mengulangi perkataannya, �Ayo bu, naik saja, nggak apa-apa�.

Ketika sampai di terminal, empat orang penumpang gratisan ini turun. Si ibu mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada supir atas kebaikannya naik angkot tanpa membayar.





Setelah ibu tersebut turun, seorang penumpang pria turun juga lalu membayar dengan uang Rp.50 ribu. Ketika supir hendak memberikan kembalian ongkos, pria itu berkata bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta empat penumpang gratisan tadi. �Terus jadi orang baik ya, Dik� kata pria tersebut kepada sopir angkot tersebut...

Pagi itu menjadi semakin cerah dengan kebaikan-kebaikan yang baru saja terjadi. Seorang ibu miskin yang jujur, seorang supir yang baik hati di tengah jam sibuk dan jalanan yang ramai ia merelakan empat kursi penumpangnya untuk ibu dan ketiga anaknya dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk sebuah kebaikan, tanpa sedikitpun mengeluh dan mengharap balas jasa.

Andai separuh saja bangsa kita bisa seperti ini, maka dunia akan takluk. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun itu, tentu akan sangat berarti bagi orang lain.

Tindakan, bukan kata-kata adalah cara berkomunikasi secara efektif


Bagaimana cara berkomunikasi secara efektif

Orang seringkali tidak percaya, atau mengabaikan apa yang kita katakan.

Jadi, jika kata-kata bukanlah cara terbaik untuk berkomunikasi, bagaimana kita berkomunikasi secara efektif?

Cara yang paling efektif untuk berkomunikasi adalah dengan tindakan kita.

Tindakan, bukan kata-kata - itulah bagaimana berkomunikasi secara efektif.

Sitemap

http://inmotivasi.blogspot.com/2015/03/kisah-nyata-mengharukan-seorang-siswi.html2015-03-02T13:19:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2015/02/kisah-jenderal-sutarman-kapolri-yang.html2015-02-18T03:58:26Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2015/01/kita-akan-menjadi-apa-yang-kita-percayai.html2015-01-18T07:35:18Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/12/kisah-sultan-hamengku-buwono-ix.html2014-12-29T09:00:59Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/12/belajar-cinta-pada-khadijah.html2014-12-16T08:55:59Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/11/kisah-soichiro-honda-sukses-setelah-gagal-berulang-kali.html2014-11-29T18:06:50Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/10/kisah-mengharukan-sang-malaikat-kecil.html2014-10-26T10:00:28Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/10/apakah-takdir-itu-pilihan.html2014-10-26T02:17:57Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/10/apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan.html2014-10-13T05:10:50Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/09/kisah-inspiratif-office-boy-yang-menjadi-vice-president.html2014-11-26T16:58:55Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/09/luangkan-waktu-selama-satu-menit-dan-cobalah-berpikir.html2014-09-03T04:53:38Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/08/belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah.html2014-08-05T16:02:37Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/08/rela-berhenti-menjadi-wanita-karir-demi-suami.html2014-08-03T04:21:04Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/08/ketika-cinta-datang-terlambat.html2014-08-02T18:01:36Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/06/tidak-ada-suatu-apapun-yang-kebetulan-di-Dunia-Ini-Segalanya-Telah-Diatur-Oleh-Yang-Maha-Kuasa.html2014-06-29T17:24:34Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/06/kisah-inspiratif-menulis-dengan-kelopak-mata-kiri.html2014-06-28T12:14:41Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/05/kisah-inspirasi-pendiri-whatsapp-dari-Remaja-Miskin-Kini-Jadi-Triliuner.html2014-09-01T04:53:33Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/05/fakta-fakta-menarik-seputar-psikologi.html2014-05-04T07:26:50Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/04/kisah-inspirasi-kekayaan-tidak-akan.html2014-04-14T02:23:33Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/04/kisah-inspiratif-gadis-tuna-rungu-yang-menjadi-model-dan-mendapat-beasiswa.html2014-04-13T05:05:12Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/03/inspirasi-motivasi-dari-para.html2014-03-17T09:43:29Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/03/inspiratif-kisah-dua-tukang-sol-sepatu.html2014-03-17T04:49:26Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/03/kisah-nyata-wanita-cantik-dan-lelaki.html2014-03-16T07:05:17Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/02/perbedaan-Antara-Cinta-dan-Nafsu.html2014-02-19T12:17:02Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/02/Kecantikan-Wanita-Terdapat-Pada-Cara-Dia-Memandang-Dunia.html2014-02-08T21:48:14Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2014/01/Jangan-Mengubur-Harapan-Ucapan-Perkataan-dan-Pikiran-Mempengaruhi-Keberhasilan-Kita.html2014-01-21T17:07:33Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/12/renungan-akhir-tahun.html2013-12-31T09:49:29Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/12/cerita-cinta-yang-memberikan-kekuatan.html2014-01-13T07:40:47Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/11/amal-yang-dilakukan-dengan-ikhlas-yang.html2013-11-15T10:51:17Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/10/hidup-adalah-belajar.html2013-10-19T13:48:43Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/10/kisah-putri-herlina-terlahir-tanpa.html2013-10-14T10:18:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/09/semakin-kita-mencari-kesempurnaan.html2013-09-13T00:51:59Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/08/jangan-menganggap-diri-sendiri-lebih.html2013-08-27T17:43:06Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/08/harga-sebuah-keajaiban.html2013-08-26T03:19:31Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/08/aku-mendengar-dan-merasakan-bebanmu-ayah.html2014-11-10T09:54:54Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/07/pengantin-bidadari-kisah-cinta-seorang.html2013-07-28T12:50:51Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/07/kisah-ashabul-kahfi-keagungan-allah.html2013-07-11T09:20:27Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/07/ambillah-waktumu.html2013-07-10T13:23:36Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/06/maafkanlah-orang-yang-telah-menyakiti.html2013-06-27T18:55:32Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/06/Palu-Menghancurkan-Kaca-Tetapi-Palu-Membentuk-Baja.html2013-06-25T17:43:25Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/06/tidak-ada-yang-mustahil-jika-anda.html2013-06-16T05:43:03Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/05/Orang-yang-dapat-melihat-betapa-indah-hati-Anda-tidak-akan-pernah-meninggalkan-Anda.html2013-05-25T14:46:53Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/05/Bukanlah-Kesulitan-Yang-Membuat-Kita-TAKUT-Tapi-Ketakutanlah-Yang-Membuat-Kita-SULIT.html2013-05-12T17:43:17Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/05/kisah-dua-orang-bersaudara.html2013-05-11T08:57:15Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/04/kisah-cinta-romantis-ali-dan-fatimah.html2013-07-12T11:55:11Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/04/Kisah-Ustad-Jeffry-Al-Buchori-Mantan-Pecandu-Yang-Menjadi-Ustad-Terkenal.html2013-04-27T04:57:22Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/04/tahap-paling-sulit-dalam-kehidupan-anda.html2013-04-23T02:24:46Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/04/Lakukan-yang-terbaik-hari-ini-dan-lakukan-sekarang.html2013-04-21T22:06:43Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/04/Mengapa-Banyak-Orang-Pintar-Memiliki-Kesulitan-Komunikasi.html2013-04-18T09:32:17Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/04/Tindakan-bukan-kata-kata-adalah-cara-berkomunikasi-secara-efektif.html2013-04-13T16:38:59Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/03/Tersenyumlah-dengan-Hatimu-dan-kau-akan-mengetahui-betapa-dahsyat-dampak-yang-ditimbulkan-oleh-senyummu.html2013-04-12T14:50:58Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/03/Kematian-itu-sebuah-misteri-Jangan-berspekulasi-nanti-bisa-bertaubat.html2013-04-12T14:55:37Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/03/Pelajaran-TERBAIK-yang-dipelajari-hanya-melalui-Kepedihan.html2013-04-12T14:56:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/03/Jangan-merasa-tak-berarti-apapun-yang-telah-terjadi-Anda-tidak-akan-pernah-kehilangan-nilai-di-mata-mereka-yang-mencintai-Anda.html2013-03-02T01:58:59Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/03/Manusia-bertanya-dan-Al-Quran-menjawab-untuk-menerangi-hati-kita-yang-sedang-bersedih-dan-galau.html2013-04-16T01:29:21Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/02/5-Prinsip-Hidup-yang-Bisa-Membuat-Anda-Selalu-Tenang-dalam-Menjalani-Kehidupan.html2013-10-19T13:13:53Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/01/Kekecewaan-dan-penderitaan-dapat-mengubah-orang-biasa-menjadi-orang-luar-biasa.html2013-10-14T12:53:15Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2013/01/10-kata-bijak-dari-para-tokoh-dunia-tentang-bagaimana-seharusnya-kita-menghadapi-kegagalan.html2013-10-14T12:27:30Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/hidup-menjadi-berarti-dan-bermakna.html2013-04-12T15:00:28Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/Jangan-terperangkap-di-kubangan-kesedihan-kebahagiaan-sejati-datang-ketika-kita-bisa-berbagi-dengan-orang-lain.html2013-04-12T15:01:03Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/jika-cinta-adalah-kesetian-tanpa-batas.html2013-04-12T15:01:57Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/Kumpulan-Kata-Mutiara-dan-Kata-Bijak-Dalam-Bahasa-Inggris-Indonesia.html2013-04-12T15:02:47Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/sebotol-racun-untuk-semangat-hidup.html2013-10-14T13:19:30Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/membangun-motivasi-dalam-diri-sendiri.html2013-04-12T15:04:19Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/12/mundur-untuk-meloncat-lebih-tinggi.html2013-04-12T15:06:03Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/10/seorang-anak-lelaki-dan-pohon-apel.html2013-04-12T15:07:08Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/10/hidup-adalah-proses-belajar.html2012-10-07T12:13:58Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/07/cerita-tentang-katak-kecil.html2013-04-12T15:08:11Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/07/emas-dan-permata-yang-ada-dalam-diri.html2013-06-07T03:47:30Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/06/terimalah-dia-apa-adanya.html2013-04-12T15:09:03Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/05/kisah-2-lembar-uang-kertas-yang.html2013-04-12T15:09:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/05/jangan-menjadi-monyet-yang-berburu.html2013-04-12T15:11:09Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/05/seorang-anak-dan-anjing-kecil.html2013-04-12T15:12:15Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/05/kebiasaan-yang-diulang-terus-menerus.html2012-05-02T04:18:02Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/balasan-dari-sebuah-kebaikan-hati.html2012-04-23T04:56:41Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/kisah-tiga-orang-pekerja.html2014-03-17T05:18:01Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/cinta-yang-sempurna.html2013-04-12T15:13:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/pernahkah-kamu-merasakan.html2014-01-03T18:54:00Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/jangan-pernah-meyakini-bahwa-engkau.html2013-04-12T15:14:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/jujur-dalam-keadaan-apapun.html2013-04-12T15:15:15Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/dibalik-cobaan-dan-ujian-allah-swt.html2013-04-12T15:16:12Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/best-quote.html2013-04-12T15:16:47Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/kupu-kupu-renungan-tentang-kebahagiaan.html2012-04-11T02:01:25Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/04/menciptakan-teman-atau-musuh.html2013-04-12T15:17:44Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/mangkuk-yang-cantik-madu-yang-manis-dan.html2013-04-12T15:18:20Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/kisah-tiga-karung-beras.html2013-04-12T15:19:21Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/jangan-terlalu-mudah-menghakimi-atau.html2013-04-12T15:20:27Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/terima-kasih-atas-waktumu.html2013-04-12T15:21:45Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/janganlah-menjadi-gelas.html2013-04-12T16:03:45Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/kumpulan-kata-kata-motivasi-mario-teguh.html2012-03-14T13:28:45Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/saatnya-putra-petir-harus-melawan.html2013-04-12T16:05:38Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/apa-arti-sahabat.html2013-04-12T16:06:19Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/nick-vujicic-seorang-motivator-hebat.html2013-04-12T16:07:32Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/apakah-cinta-itu-sebuah-magic.html2013-04-12T16:08:29Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/03/kisah-tenzing-norgay.html2013-04-12T16:10:17Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/cara-agar-mudah-belajar-dengan-teknik.html2013-04-12T16:10:52Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/hubungan-gaya-kepemimpinan-dengan.html2013-04-12T16:12:30Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/berpikir-kreatif-pasca-kehilangan.html2013-04-12T16:13:24Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/bicara-dengan-bahasa-hati.html2013-04-12T16:14:11Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/batu-rubi-yang-retak.html2013-04-12T16:14:42Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/pengrajin-emas-dan-kuningan.html2013-04-12T16:15:20Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/mengasihi-tanpa-mengatakan-sesuatu.html2013-04-12T16:16:33Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/malaikat-kecilku-tolong-ajarkan-kami.html2013-04-12T16:17:38Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/adakah-yang-akan-mendoakan-kita.html2013-04-12T16:18:10Zhttp://inmotivasi.blogspot.com/2012/02/surat-dari-sang-maha-pencipta.html2013-04-12T16:18:50Z